Airlangga Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2-5,4 Persen di Kuartal II 2026, Bantah Ada Perlambatan
- ANTARA/Desca Lidya Natalia
"Relatif semua masih berada pada angka yang benar sehingga tentu momentum ini kita harus jaga ke kuartal ketiga dan kuartal keempat walaupun situasi global masih belum menentu," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa menjaga momentum pertumbuhan menjadi tantangan penting agar kinerja ekonomi tetap stabil hingga akhir tahun.
Bantah Ada Perlambatan Ekonomi Ekstrem
Di tengah berbagai spekulasi mengenai perlambatan ekonomi nasional, Airlangga membantah adanya indikasi perlambatan yang ekstrem.
Menurutnya, meski proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II berada di bawah capaian kuartal pertama, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh di atas 5 persen.
"Kemarin (Kuartal I 2026), (ekonomi tumbuh) 5,61 (persen) dan besok kita masih lihat di atas 5 persen. Jadi Indonesia bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Walaupun global melambat, 3 koma, tapi Indonesia tidak ikut global," tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa Indonesia mengikuti tren perlambatan yang saat ini dialami banyak negara akibat tekanan ekonomi global.
Momentum Pertumbuhan Akan Dijaga Hingga Akhir Tahun
Pemerintah menilai capaian ekonomi pada kuartal II menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan pada kuartal III dan kuartal IV 2026.
Meski kondisi global masih dipenuhi ketidakpastian, Airlangga optimistis Indonesia mampu mempertahankan resiliensi ekonominya dengan memanfaatkan momentum yang sudah terbentuk sepanjang semester pertama tahun ini.
Menurutnya, berbagai indikator ekonomi yang masih menunjukkan tren positif menjadi dasar optimisme pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional hingga penghujung tahun.
Sektor Energi Masih Relatif Aman
Selain menyoroti pertumbuhan ekonomi, Airlangga juga memastikan kondisi sektor energi nasional masih berada dalam situasi yang relatif aman.
Ia menjelaskan bahwa stabilitas tersebut didukung oleh perkembangan harga minyak dunia yang saat ini masih berada di bawah rata-rata harga pembelian pemerintah, yakni sekitar US$90 per barel.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah menilai tekanan terhadap sektor energi masih dapat dikendalikan sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Kombinasi antara fundamental ekonomi yang dinilai kuat, inflasi yang tetap terkendali, aktivitas manufaktur yang kembali ekspansif, serta kondisi sektor energi yang relatif stabil menjadi alasan pemerintah tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Di tengah perlambatan ekonomi global, pemerintah meyakini Indonesia masih mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas level 5 persen sekaligus mempertahankan ketahanan ekonomi nasional sepanjang tahun.
