ESDM Blak-blakan soal Alasan Menurunkan Produksi Komoditas Tambang, Ini Biang Keroknya
- Antara
Jakarta, VoxPop – Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno menjelaskan, pemerintah telah menurunkan produksi di sektor pertambangan, guna menjaga sumber daya alam dari eksploitasi berlebih.
“Kalau hanya berdasarkan produksi (komoditas tambang), kita memang turun. Tapi kan memang kita ada sumber daya alam jangan dihambur-hamburkan,” kata Tri di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.
Ilustrasi tambang
- Istimewa
Pernyataan tersebut diutarakan Tri guna menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS), yang mencatat bahwa pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha kecuali pertambangan, dimana penggalian yang terkontraksi sebesar 1,64 persen.
Karenanya, sektor pertambangan dinilai mengalami perlambatan akibat pembatasan kuota produksi. Tri pun membenarkan bahwa penurunan memang terjadi dari segi produksi.
“Tetapi kalau misalnya dari sisi nilai uangnya, itu hampir sama meski secara produksi kita turun. Kenapa? Karena secara harga itu naik,” ujar Tri.
Sementara untuk produksi tembaga, Tri menyampaikan bahwa memang terjadi penurunan produksi oleh PT Freeport Indonesia, sejak insiden longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Mimika, Papua Tengah, pada 8 September 2025.
Insiden tersebut menyebabkan Freeport Indonesia sempat menghentikan produksi di tambang GBC.
“Jadi terkait dengan tembaga, memang karena produksi Freeport turun drastis, karena longsoran itu,” ujarnya.
Sebagai informasi, pada semester I-2026, Freeport Indonesia melaporkan kapasitas produksi tambang GBC setelah insiden longsor berada di kisaran 50 persen dari kapasitas normal. Kemudian, Freeport memperkirakan bahwa pada semester II-2026, kapasitas produksi akan meningkat menjadi 65 persen.
Pada semester I-2027, kapasitas produksi ditargetkan mulai pulih hingga 75 persen, sebelum menuju 100 persen sepanjang semester II-2027. (Ant).
