Menjaga Asa di Surga Bahari, Dedikasi Mantri BRI untuk Masyarakat Wakatobi
- Ist
Ia bercerita, motivasi terbesar Titin bertahan di wilayah yang penuh tantangan adalah keinginan untuk membantu sesama. Titin memahami bahwa ekonomi masyarakat kepulauan sangat bergantung pada alam. Di Kaledupa, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari rumput laut dan kopra.
“Ketika musim ombak besar tiba, hasil rumput laut biasanya menurun drastis karena hancur diterjang arus. Saat itu, masyarakat biasanya beralih fokus mengolah kopra,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, peran Titin sebagai Mantri BRI menjadi penting. Ia tidak hanya menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk modal usaha, tetapi juga membantu nasabah mencari jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi.
Ia pun menyebut, salah satu kisah yang membekas bagi Titin adalah perjuangan seorang anak nasabah yang berupaya membiayai kuliahnya. Di saat yang sama, orang tuanya juga harus memenuhi kewajiban cicilan kredit. Sang anak kemudian membantu keluarganya mengumpulkan kopra hingga memperoleh empat karung tambahan untuk menutup kebutuhan kuliah sekaligus kewajiban kepada bank.
Melihat kejujuran dan kegigihan keluarga tersebut, Titin berinisiatif membantu lebih jauh. Ia memanfaatkan data klaster pengusaha kopra yang dimiliki BRI untuk mempertemukan nasabah dengan pembeli atau pengepul yang memiliki akses ekspedisi sendiri. “Namanya kita di BRI kan ada data klaster pengusaha. Jadi saya bantu pertemukan dengan pembelinya langsung agar mereka tidak kesulitan menjual hasil buminya,” jelas Titin.
Bagi Titin, melihat nasabah mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi dengan dukungan modal dari BRI menjadi kepuasan batin yang tidak ternilai.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tantangan di Kaledupa tidak hanya datang dari ombak, tetapi juga keterbatasan infrastruktur digital. Di wilayah kerja Titin, masih banyak area yang masuk kategori wilayah tanpa sinyal.
Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkah BRI untuk tetap hadir. Dari sembilan desa yang ditangani Titin, empat BRILink Agen berhasil diaktifkan di desa-desa yang memiliki jaringan internet relatif memadai. Secara keseluruhan, terdapat enam agen aktif yang menjadi perpanjangan layanan BRI di pulau tersebut.
Di tengah keterbatasan akses internet, Titin juga terus mengedukasi masyarakat mengenai layanan keuangan BRI, termasuk penggunaan BRImo di sejumlah titik yang telah terjangkau jaringan. Perlahan, masyarakat mulai memanfaatkan BRImo untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari membayar berbagai tagihan, mengirim uang kepada anak yang menempuh pendidikan di luar daerah, hingga bertransaksi dengan para reseller.
