Pasar Asia Diprediksi Tidak Terpengaruh Isu Brexit

Warga Inggris menembus cuaca buruk untuk memberikan suara pada referendum.
Sumber :
  • REUTERS/Neil Hall

VoxPop.co.id – Inggris telah memutuskan untuk berpisah dari Uni Eropa dalam hasil referendum yang digelar pada 23 Juni 2016 lalu. Tercatat sebesar 51,9 persen penduduk Britania Raya tersebut memilih untuk keluar dari kawasan benua biru (Britain Exit). Sementara sebanyak 48,1 persen memutuskan untuk tetap tinggal.

img_title Pukulan Pertama Bagi Perdana Menteri Baru Inggris Boris Johnson

Chief Economist DBS Group Research David Carbon dalam keterangan resmi yang diterima voxpop.id, Jumat 15 Juli 2016, memandang keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa merupakan kemunduran besar bagi Inggris Raya.

Menurut Carbon, Inggris sudah seperti menembak kakinya sendiri dalam menghadapi era perdagangan bebas dan globalisasi yang membuka sekat-sekat perbatasan negaranya.

img_title Mengapa Universitas Oxford Inggris Hasilkan Banyak PM dan Presiden

Bagi kelompok muda, perdagangan bebas merupakan peluang untuk memperoleh pekerjaan, serta pendapatan yang melampaui orang-orang tua mereka. Itu sebabnya, anak-anak muda Inggris lebih memilih untuk tetap bergabung dengan Uni Eropa, karena dari sisi perdagangan yang terbuka baik itu barang dan jasa, mereka bebas bekerja di mana saja.

Namun bagi generasi tua yang kurang memiliki skill, era perdagangan bebas dapat membatasi ruang mereka untuk memperoleh pekerjaan. Mereka kalah bersaing dengan pencari kerja yang lebih muda, yang familiar dengan teknologi baru. Untuk itu, Carbon menyarankan pelatihan kepada mereka yang “kalah” untuk menghadapi sistem ekonomi dan teknologi baru untuk mengatasi hal ini.

img_title Theresa May Mundur, Siapa Calon PM Inggris Penggantinya

Lebih lanjut Carbon menilai, besarnya dampak yang ditimbulkan dari Britain Exit (Brexit) akan tetap bergantung dari berapa banyak negara yang bisa jadi akan menyusul langkah Inggris keluar dari kawasan zona biru.

Efek domino, bisa terjadi seketika jika Britain Exit menjadi inspirasi bagi negara Uni Eropa lain seperti Belanda, Austria, Swedia, dan Prancis untuk menggelar referendum serupa.

“Perlu juga dicatat bahwa Skotlandia telah memutuskan untuk tetap menjadi bagian dari ekonomi Uni Eropa. Hal ini membuka kembali kemungkinan Skotlandia akan meninggalkan Inggris Raya untuk bisa tetap menjadi anggota Uni Eropa,” jelas Carbon.

Lantas, bagaimana dampak Britain Exit sendiri terhadap Asia?

Dalam jangka pendek, dampak Britain Exit ini memang terasa dalam pasar uang dan pasar modal. Ini terlihat dari bursa saham Asia yang melakukan aksi jual pada saat hasil referendum diumumkan. Namun Carbon mengatakan, dari perspektif ekonomi, dampak ini tidak akan terlalu mengkhawatirkan terutama bagi Asia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut