Opera Kecoa, Cermin Realitas Kehidupan
VoxPop.co.id – Penulis dan Sutradara Teater Koma Nano Riantiarno berhasil mengemas humor, sindiran, dan realitas sekaligus dalam ‘Opera Kecoa’. Bagaimanapun juga, Opera Kecoa merupakan cermin realitas kehidupan Indonesia, terutama di Jakarta. Segala ironi yang ada dalam Opera Kecoa memang benar-benar ada di negeri kita.
Konflik utama dalam drama ini adalah pergulatan orang-orang ‘terbuang’ untuk bertahan hidup dan memperjuangkan nasib mereka. Akan tetapi, mereka seakan-akan sudah digariskan untuk selalu kalah. Orang-orang yang berkuasa pada akhirnya selalu mengalahkan mereka membakar kawasan kumuh.
Ketika akhirnya kedua pihak tersebut sudah siap berperang, Roima mengimbau orang-orang ‘terbuang’ untuk kembali ke tempat asal mereka. Maka kembalilah mereka ke dalam got tempat yang sudah seharusnya.
Nano melakonkan perjuangan seorang bandit kelas teri, Roima, yang sedang berada di persimpangan jalan. Dia tertarik kepada Tuminah, seorang Pekerja Seks Komersial yang sudah punya pacar seorang waria bernama Julini. Meskipun hidupnya susah, Julini pantang meminta-minta. Dengan caranya sendiri, ia berjuang untuk memperbaiki nasibnya. Cintanya yang teramat besar pada Roima membuatnya rela bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua dan membelikan barang-barang bagus untuk Roima. Ia merasa tidak berdaya pada kenyataan bahwa ia tidak akan bisa mempunyai anak dari Roima.
![]()
Masih ada beberapa tokoh lain yang cukup punya andil dalam Opera Kecoa, diantaranya Tarsih (pemilik rumah bordil yang menampung PSK-PSK miskin), Kumis (bos kelompok bandit), Bleki (pengikut setia Kumis), pejabat setempat (langganan Tuminah, dan tamu pejabat dari Jepang.
Akan tetapi, tokoh yang paling menarik adalah Tukang Sulap. Ia selalu membujuk orang-orang untuk membeli obat semprot anti kecoa. Kecoa, yang merupakan simbol orang-orang ‘terbuang’, menurutnya sangat berbahaya dan harus dibasmi sebelum mengambil alih dunia. Apakah demikian pula pemikiran para penguasa sehingga mereka membakar kawasan kumuh tempat tinggal para kecoa orang-orang ‘terbuang’.
PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) terus mewujudkan komitmennya untuk mendorong pembentukan karakter generasi muda melalui seni dan budaya dengan mengundang penerima beasiswa Bakti BCA dari Universitas Indonesia, peserta Program Pendidikan Akuntansi (PPA) Non Gelar, peserta Program Pendidikan Teknik Informatika (PPTI) Non Gelar dan anak-anak karyawan BCA untuk bersama-sama menyaksikan pertunjukan seni teater ‘Opera Kecoa’.
