Festival Bunga Tomohon 2017 Tuai Pro dan Kontra Petani Lokal

Kendaraan hias peserta dari luar negeri dalam Festival Internasional Bunga Tomohon tahun 2017.
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Agustinus Hari

Youla Tooy, seorang petani bunga lain, mengaku tak mau menerima bantuan pemerintah. Dia juga tidak mau masuk dalam kelompok tani. “Saya tidak mau terima bantuan pemerintah,” katanya.

img_title Status Gunung Awu di Sulawesi Utara Naik ke Level II

Pemerintah, menurutnya, membentuk kelompok-kelompok tani. Satu kelompok mendapatkan Rp10 juta untuk dibagi kepada sepuluh orang. “Jadi masing-masing dapat satu juta. Harusnya setelah jadi bibit, baru dibagi, bukan dalam bentuk uang,” Youla mengkritik.

Dana Rp1,9 Miliar

img_title Ricuh dan Anarkis, Evita Batalkan Musda KBPP Polri Sulut

Lain lagi cerita Netty Karundeng, pemilik Kios Tirza di Kelurahan Kakaskasen II, Kecamatan Tomohon Utara. Saat ditemui pada Jumat pekan lalu, Netty mengungkapkan dalam setiap gelaran TIFF, dia dan suaminya ikut mendekorasi float. Dekorator memberinya uang Rp1,5 juta per hari.

“Satu float bisa dikerjakan hingga tiga hari saja. Kalau orang lain mungkin seminggu. Tapi saya dan suami hanya tiga hari saja mengerjakan satu float. Tahun lalu kami mendekor float milik Pemkot Bitung, tapi tahun ini belum ada orderan,” ujar Netty.

img_title Wapres Ma'ruf Amin Resmikan Tomohon sebagai Kota Toleransi Indonesia

Dia termasuk orang yang menikmati dampak festival itu meski keuntungan penjualan bungai lebih besar saat moment perayaan Natal atau Tahun Baru. "Namun tanpa TIFF pun kami bisa hidup dari bunga,” kata wanita empat anak itu.

Pemerintah Kota Tomohon mengucurkan dana Rp1,9 miliar untuk penyelenggaraan TIFF tahun 2017. Uang sebanyak itu untuk pengadaan bunga, pembuatan kendaraan hias, hingga kebutuhan lain.

Khusus pembuatan kendaraan hias dianggarkan dana Rp50 juta sampai Rp70 juta per kendaraan. Itu sudah termasuk sewa kendaraan, dekorasi, dan pengadaan bunga. Pihak ketiga atau dekorator yang biasa berurusan dengan Pemerintah Kota terkait hal itu.

Pemerintah Kota menepis isu bahwa hanya petani-petani tertentu yang menikmati pesta bunga di kawasan kaki Gunung Lokon itu. “Kalau dikatakan petani-petani ini ada kedekatan-kedekatan dengan orang pemerintah, itu tidak ada,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Tomohon, Vonny Pontoh.

Kelompok-kelompok tani itu, Vonny mengklaim, sudah lama bermitra dengan pemerintah untuk mengembangkan krisan. “Karena kalau dia baru, tidak akan mampu menanam bunga, khususnya krisan,” katanya.

Dia mengakui ada bantuan dari pemerintah untuk kelompok tani, dalam bentuk bibit, pupuk, zat perangsang tumbuh, serta tenaga teknis pendampingan. Seratus ribu bibit krisan dibagikan kepada 34 kelompok tani. Tiap-tiap kelompok rata-rata mendapatkan tiga ribu sampai empat ribu bibit. Jika dinilai dengan uang setara Rp2,1 juta.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut