Piala Presiden 2026: Derby Klasik yang Menembus Batas Stadion Menjadi Hiburan Rakyat
- Instagram/persija
VoxPop – Tidak ada nyanyian suporter yang menggema dari tribun Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa, 4 Agustus 2026. Tidak ada lautan Bobotoh, Jakmania, Bonek, ataupun Aremania yang memenuhi bangku stadion seperti lazimnya sebuah derby besar digelar.
Tapi, sepakbola Indonesia tetap bergemuruh. Di waktu yang hampir bersamaan, dua rivalitas paling bergengsi di negeri ini tersaji dalam satu panggung.
Persib Bandung menghadapi Persija Jakarta, lalu disusul Derby Jawa Timur antara Persebaya Surabaya melawan Arema FC. Dua pertandingan yang selama puluhan tahun tak pernah kehilangan pesonanya, tersaji di babak semifinal Piala Presiden 2026.
Tribun Stadion Kapten I Wayan Dipta memang kosong. Suporter, penikmat sepakbola berpindah ke ruang keluarga, warung kopi, pos ronda, hingga kedai-kedai kecil di berbagai daerah berubah menjadi tribun baru.
Jutaan pasang mata tertuju ke layar televisi. Sorak-sorai tetap terdengar, hanya berpindah tempat. Begitulah sepakbola bekerja di Indonesia. Ia tidak selalu membutuhkan stadion yang penuh untuk menghadirkan euforia.
Persib akhirnya keluar sebagai pemenang setelah menundukkan Persija Jakarta 2-1. Beberapa jam kemudian, Persebaya menyusul ke partai final usai mengalahkan rival abadinya, Arema FC, dengan skor tipis 1-0.
Hasil pertandingan memang menjadi catatan sejarah. Namun dari sudut pandang yang lebih luas, kemenangan terbesar malam itu bukan hanya milik Persib dan Persebaya. Pemenangnya adalah sepakbola Indonesia.
Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, sejak awal memang menempatkan turnamen ini sebagai milik masyarakat. "Sepakbola itu hiburan rakyat."
Kalimat itu mungkin sederhana. Namun semifinal Piala Presiden 2026 menjadi gambaran nyata dari makna tersebut. Ketika alasan keamanan membuat pertandingan harus digelar tanpa penonton, antusiasme masyarakat ternyata tidak ikut padam.
Derby Persib kontra Persija dan Persebaya melawan Arema tetap menjadi magnet yang menyatukan jutaan orang di depan layar televisi.
Di banyak rumah, pertandingan menjadi alasan keluarga berkumpul. Di warung kopi, orang-orang saling berdebat soal strategi dan peluang. Di pos ronda, televisi menjadi pusat perhatian hingga peluit panjang berbunyi.
Sepak bola kembali menjadi bahasa yang dipahami semua kalangan. Bukan hanya mereka yang mengenakan jersey klub kesayangan, tetapi juga masyarakat yang sekadar ingin menikmati tontonan berkualitas selepas bekerja.
