Ruben Amorim Waspadai Chelsea di SUGBK, Sebut Tim Inggris Punya Senjata Mematikan
- Ilham/tvOnenews.com
Jakarta, VoxPop – Pelatih AC Milan Ruben Amorim memberikan perhatian khusus terhadap kekuatan Chelsea jelang pertemuan kedua tim dalam ajang Indonesia Super Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
Amorim menilai Chelsea memiliki sejumlah keunggulan yang harus diantisipasi oleh anak asuhnya. Salah satu hal yang menjadi perhatian pelatih asal Portugal tersebut adalah kemampuan tim asal Inggris itu dalam memanfaatkan situasi bola mati.
Hal tersebut disampaikan Amorim dalam konferensi pers jelang pertandingan, Jumat 7 Agustus 2026. Menurutnya, menghadapi klub Inggris selalu menjadi ujian menarik karena karakter permainan mereka yang mengandalkan kekuatan fisik.
"Salah satu hal yang kami harapkan adalah bisa menghadapi situasi bola mati dengan baik. Itu adalah sesuatu yang perlu kami kerjakan karena penting ketika menghadapi tim Inggris, mereka sangat bagus dalam hal tersebut," ujar Amorim.
Selain bola mati, Amorim juga menyoroti perbedaan intensitas permainan antara sepak bola Inggris dan Italia. Ia menilai laga melawan Chelsea bisa menjadi kesempatan bagi AC Milan untuk mengukur kesiapan fisik timnya.
"Fisik dalam permainan Inggris sedikit berbeda dengan Italia. Kami ingin meningkatkan kondisi fisik, jadi ini adalah sebuah tes yang bagus, terutama pada saat seperti sekarang," katanya.
AC Milan memang tengah berada dalam proses adaptasi setelah Amorim mulai menerapkan pendekatan permainan baru. Mantan pelatih Manchester United itu mengakui timnya masih membutuhkan waktu untuk menemukan bentuk terbaik.
Meski begitu, Amorim melihat ada perkembangan positif dari laga sebelumnya. Ia menilai Rossoneri mulai menunjukkan peningkatan terutama dalam permainan dengan bola.
"Saya melihat tim ini berkembang pada pertandingan terakhir dibandingkan laga melawan Celtic. Kami bermain dengan cara yang lebih baik," ucap Amorim.
Namun, ia mengakui perubahan gaya bermain membutuhkan proses, terutama karena sistem yang diterapkan menuntut pemain memiliki intensitas tinggi dalam melakukan pressing dan sprint.
"Kami masih kesulitan secara fisik karena kami bermain dengan cara yang berbeda. Dengan baru dua pertandingan, tidak mungkin sebuah tim langsung bermain dengan gaya baru, melakukan lebih banyak sprint, lebih banyak tekanan, dan tetap dalam kondisi segar," tutur Amorim.
