'Bapak Revolusi' Timnas Jerman Bersedia Latih Inggris
- AP Photo/Christof Stache
VoxPop.co.id – Juergen Klinsmann adalah sosok di balik revolusi sistem sepakbola modern Jerman. Penerapan sabermetric, yang dilakukannya lebih dari satu dekade lalu, sukses membuat Jerman menaklukkan dunia dengan kekuatan analisis data.
Bagaimana dia membangun timnas Amerika Serikat (AS) pun tampak dalam ajang Copa America Centenario. Dia berhasil membawa AS melaju ke semifinal Copa America Juni lalu.
Maka, mantan striker Tottenham Hotspur itu kini dijagokan untuk menangani the Three Lions, untuk menggantikan Roy Hodgon yang mengundurkan diri setelah kegagalan di Piala eropa.
Dilansir dari Mirror, Rabu 6 Juli 2016, striker legendaris Jerman itu masuk dalam dua kriteria yang disyaratkan Asosiasi Sepakbola Inggris (FA), bagi pelatih asing yang ingin menangani timnas Inggris. Berbahasa Inggris dan mengetahui Premier League.
Tampaknya gayung bersambut. Klinsmann pun seperti memberi isyarat, berhasrat kembali ke Inggris. Di dalam buku barunya “Soccer Without Borders,” yang akan terbit di Jerman pada September mendatang, dia mengungkap rasa cinta pada sepakbola Inggris.
"Bermain di Inggris telah berdampak panjang pada saya. Saya mengalami begitu banyak momen indah di sana, terutama di lapangan, yang sangat mempengaruhi saya. Semangat tim, bagaimana semua orang saling membahu, bagaimana semua orang pergi ke bar pemain setelah pertandingan," katanya.
Klinsmann menulis, bicara tentang sepakbola Inggris tidak lepas dari atmosfer di stadion. "Luar biasa cara mereka menyanyikan lagi-lagu, bagaimana ketegangan dan kegairahan meningkat selama pertandingan. Itu sesuatu yang tak bisa Anda alami di negara lain."
"Itu sungguh selalu spesial buat saya," ujarnya. Klinsmann menjalani dua periode di Tottenham. Namun mengingat periode pertama sebagai momen paling menyenangkan dalam karirnya. Dia tiba di Inggris sebagai salah satu nama besar dalam dunia sepakbola.
Walau berasal dari Jerman, yang merupakan musuh terbesar Inggris di sepakbola, Klinsmann diingat sebagai salah satu pemain asing terbesar di era Premier League. "Itu mungkin tahun paling menyenangkan dalam karir saya. Begitu banyak yang terjadi dalam satu musim."
"Cara orang Inggris memperlakukan saya, bagaimana mereka menerima saya ke mana pun saya pergi di Inggris. Saya tidak pernah menikmati bermain di satu tim, sebegitu besarnya dalam karir saya. Saya tidak punya masalah untuk pergi ke Inggris," katanya.
