COO PT Liga Indonesia Baru soal Marquee Player
- VoxPop.co.id/Muhamad Solihin
Lalu, kenapa saat ada klub lain menyebut status pemainnya sebagai marquee player dampaknya tak seheboh saat Persib mendatangkan Essien?
Itu bisa bergantung strategi promosi klub atau popularitas si pemain. Yang pasti, regulasi terkait marquee player diberlakukan buat menarik minat sponsor di negara-negara yang sepakbolanya belum maju. Ada sisi bisnis yang terjamin berkat kualitas si pemain yang di atas rata-rata.
Mungkin saja ada marquee player tidak sepopular Essien, tapi ia punya kualitas teknik mumpuni. Nah, saat klub merekrutnya tentu saja kehebohannya tak sedahsyat saat Persib datangkan Essien.
Muncul anggapan klub memaksakan diri mengangkat pemain asing jadi marquee player hanya demi mansiasati kuota pemain asing. Apa tanggapan Anda?
PT LIB bakal mencermati secara ketat setiap pergerakan klub. Lagipula, klub bakal berhitung dari risiko biaya. Tarif marquee player kan lebih tinggi. Tengok Wiljam Pluim yang merapat di PSM Makassar. Awalnya ia sendiri memang tak tahu kalau termasuk marquee player. PT LIB meloloskan karena tahu ia berkualitas marquee player.
Selain brand, bisnis klub, kualitas klub GoJek Traveloka Liga-1 2017, ada sisi positif lain terkait regulasi marquee player?
Buat merekrut marquee player, klub keluarkan dana besar. Dan, ini bisa jadi gambaran umum tentang kondisi finansial klub. PT LIB pun jadi punya parameter tambahan buat mendeteksi keadaan klub.
Berapa klub di Indonesia sebenarnya yang punya kemampuan mengontrak marquee player mengingat harganya yang tidak murah?
Jumlahnya masih sangat terbatas. Apalagi, ada salary cap yang diberlakukan PSSI kepada setiap klub. Anggaran gaji pemain tak boleh melebihi total Rp 5-15 miliar. Jumlah itu di luar gaji marquee player. Jadi, klub sehat atau sebaliknya bisa juga diukur dari sisi itu. (one)
Laporan: Bramono
