Fosil Gigi di Sumatera Ubah Sejarah Manusia di Asia Tenggara
- www.cosmosmagazine.com/Julien Louys
VoxPop.co.id – Fosil gigi ditemukan di sebuah situs gua kuno di Sumatera, Indonesia. Gua ini sebelumnya ditengarai oleh para ilmuwan telah hilang selama lebih dari satu abad karena proses ilmu alam. Penemuan ini mengungkapkan, manusia telah tinggal di Pulau Sumatra sejak 63 ribu sampai 73 ribu tahun yang lalu atau 20 ribu tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Fosil gigi yang ditemukan di sebuah situs gua Lida Ajer, di Dataran Tinggi Padang, pesisir barat Sumatra, memberikan bukti awal tentang manusia modern yang hidup di hutan hujan yang diadaptasi untuk membuka tempat bertahan hidup berupa padang rumput. Hutan hujan merupakan sebuah lingkungan yang dikenal sangat menantang bagi Homo sapiens yang baru masuk.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature ini telah menyebar di beberapa daerah. Bersamaan dengan penelitian terbaru, yang menunjukkan kedatangan manusia modern diperkirakan lebih awal di Laos utara, penemuan fosil di Sumatera ini berpotensi mengatur ulang rentang waktu kedatangan Homo sapiens di Asia.
Pada akhirnya, para peneliti harus memeriksa ulang mengenai batas waktu migrasi manusia modern ketika keluar dari Benua Afrika. Temuan ini juga bisa berdampak pada penelitian yang menyatakan kedatangan manusia paling awal ada di Australia.
Penemuan fosil gigi yang terdiri dari gigi seri dan gigi molar, sebenarnya ditemukan oleh ahli paleoantropologi Belanda dan penjelajah Eugene Dubois pada akhir abad ke-19. Kala itu, Dubois mengklasifikasikan mereka sebagai hominin. Segera setelah itu, gigi dan fosil lain yang ditemukan, termasuk situs Lida Ajer, yang hilang dari kajian akademis.
Diperkirakan, ini disebabkan oleh ketidakpastian mengenai usia artefak karena catatan yang tidak lengkap dan praktik penggalian yang buruk. Akibatnya, Sumatera tidak pernah ditampilkan dalam penelitian serius untuk memetakan arus masuk manusia ke Asia.
Gigi itu diperiksa ulang 70 tahun lalu oleh ahli paleontologi Belanda lainnya, Dirk Hooijer. Dia mengidentifikasi gigi itu milik manusia modern, namun tidak dapat memberikan waktu pasti untuk manusia modern ini. Bukti spesies hominin lainnya di wilayah Sumatera, terutama Homo erectus dan Homo floresiensis, menimbulkan pertanyaan tentang keakuratan temuannya.
