Robot Smarthome Siswa SMP, Beri Pakan ke Hewan Bisa dari Kampung
- VoxPop/Muhammad Aprian Romadhoni
VoxPop – 'Jagoan IT, Pinter Ngaji' menjadi jargon Sekolah Komputer berbasis pesantren Yayasan sekolah SMP dan SMK, Islamic Development Network atau IDN Boarding School, Jonggol, Bogor, Jawa Barat.
Di sekolah ini, seluruh siswa didik tidak hanya mahir mengoperasikan perangkat dan sistem jaringan komputer, di sisi lain mereka adalah penghafal Alquran.
Kemampuan siswa di sekolah ini, terkenal memiliki kemampuan di atas rata-rata. Bahkan, saking mahirnya, mereka mengajar kepada guru-guru teknologi informasi dari sekolah lain yang datang ke sekolah ini. Siswa IDN Boarding School digolongkan sebagai praktisi cilik yang kemampuannya sama dengan sarjana teknologi.
Deretan prestasi pernah ditorehkan sekolah ini. Contohnya, memperoleh sertifikat Cisco Certified Network Associate? (CCNA). Umumnya, sertifikat ini dikantongi pekerja lulusan sarjana dan magister.
Menariknya lagi, siswa IDN Boarding School pernah menjadi merupakan IT termuda di ajang Asian Games 2018. Siswa sekolah tersebut juga meraih MikroTik Certified Internetworking Engineer (MTCINE) yang merupakan penghargaan level tertinggi dari Kelas MikroTik.
Kelas ini, terutama dibutuhkan oleh praktisi atau profesional di bidang penyedia jasa internet (ISP). Saat ini, sekolah ini merupakan pemilik sertifikat Mikrotik MTCINE termuda di dunia.
Nah, di bulan Ramadan ini, kesibukan anak-anak SMP IDN Boarding School sedang belajar merakit robot. Yang dirakit bukan sembarang robot, melainkan robot dengan open source Arduino dan Internet of Things (IoT). Robot ini berfungsi sebagai pengendalian smarthome.
"Internet of Things (IoT) merupakan salah satu bagian dari roadmap pemerintah oleh Kementerian Perindustrian dalam menuju kesiapan era industri 4.0 sekarang ini," kata Humas Yayasan IDN Boarding School, Doddy Rahman.
Doddy menjelaskan, pembuatan robot ini selaras dengan kondisi anak-anak zaman sekarang yang telah mengenal dunia digital sejak usia dini. Saat ini, anak-anak balita sudah terbiasa dengan video YouTube, game Android. Namun masalahnya, kata dia, akses terhadap teknologi digital itu tidak dibarengi dengan pembelajaran pendidikan digital untuk usia anak-anak.
"Ini yang akan menyebabkan anak-anak nantinya hanya akan sekadar pasif menjadi pengguna atau pun sekadar jadi gamer biasa. Seharusnya tahu pembuatan perangkat tersebut," katanya.
