Mengulik Data Scientist, Bisa 'Baca' Riwayat Hidup Seseorang

Kantor Cambridge Analytica di Inggris.
Sumber :
  • REUTERS/Henry Nicholls

VoxPop – Kebutuhan besar atas pengolahan data pada industri mengerucut pada satu pekerjaan, data scientist. Namun, apa sebenarnya data scientist itu?

img_title Profesi Ini Gajinya Tembus Rp1,8 Miliar Setahun, Banyak Dicari Perusahaan hingga 2030

Managing Director Putera Handal Indotama (PHI) Integration, Feris Thia, menjelaskan bahwa data scientist merupakan pekerjaan untuk mengolah data yang menghasilkan suatu cerita. Nantinya, hasil tersebut harus menjadi satu tujuan yang ditentukan.

Ia lalu mencontohkan data scientist dengan Cambridge Analytica, perusahaan konsultan politik yang namanya terseret skandal kebocoran data pengguna Facebook.

img_title Apapun Dilakukan Facebook untuk Mempertahankan Dominasi

"Cambridge Analytica itu, ya, data scientist. Karena mampu menerjemahkan like, dislike dan respons terhadap kuis yang diberikan. Ini menjadi bahan penentu partai politik untuk melihat isu apa yang sebaiknya diekspos ke demografik tertentu. Kapan, di mana, serta umur penggunanya berapa," kata Feris kepada VoxPop, Jumat malam, 13 Juli 2018.

Kepala Eksekutif Facebook Mark Zuckerberg.

img_title Data Scientist Hasilkan Cerita untuk Satu Tujuan

Ia juga menyebut kalau perilaku orang adalah bagian dari data. Untuk kemudian diolah dan menjadi informasi berguna bagi yang membutuhkan. Pekerjaan mengolah data ini, menurut Feris memang tidak jauh berbeda dengan pekerjaan statistik.

Feris mengungkapkan bila data scientist merupakan statistik yang dilengkapi dengan kemampuan komputasi untuk pengolahan data. 

Butuh imajinasi

Namun, porsi komputasi pada data scientist tidak terlalu besar. “Justru yang paling besar adalah kebutuhan analisis data serta analytical thinking," jelas Feris.

Selain itu, data scientist membutuhkan imajinasi yang tinggi. Semua data yang telah dikumpulkan dan diolah atau dimodelkan bisa menjadi variabel yang berbeda tergantung dari seberapa jauh imajinasi orang yang mengolahnya.

"Misalnya begini. Ada yang keluar masuk jam 10 dan jam 10 lewat 1 detik itu di kita hanya soal waktu. Tapi oleh data scientist itu dimasukkan ke dalam golongan orang berkelompok, kemudian menjadi kategori baru,” tuturnya.

“Nah, itu butuh imajinasi," papar dia.

Kendati demikian, Feris mengakui, masih ada satu tantangan bagi orang yang mau terjun ke pekerjaan ini. Yaitu, belum adanya contoh dengan kasus familiar bagi orang Indonesia.

Selain contoh kasus, semua hal sudah bisa dipenuhi. Mulai dari masyarakat Indonesia yang diklaim Feris tak kalah dengan negara lain ataupun sudah banyaknya tutorial di internet.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut