Mengelola Karbondioksida

Ilustrasi karbondioksida/CO2.
Sumber :
  • Freepik

VoxPop Tekno – Bayangkan saja di masa depan sabun yang dipakai sehari-hari ternyata terbuat dari polusi udara. Atau vodka dibuat dari emisi. Yang pasti, itu semua mungkin akan segera terjadi.

img_title Airlangga: Program B50 Bisa Hemat Devisa Rp177 Triliun, Indonesia Tak Lagi Impor Solar

Seperti diketahui, dunia harus melenyapkan satu miliar ton CO2 sampai 2025 untuk mencapai persetujuan iklim Paris. Perusahaan Covestro dari Jerman mengaku bisa mengubah CO2 menjadi bahan baku yang bisa digunakan untuk apa saja.

Misalnya kasur, peralatan medis, kaos kaki, sepatu olah raga, kursi di mobil, pembungkus telefon, lapisan dinding, bahkan lapisan lantai.

img_title Presiden FIFA Gianni Infantino Dikritik Aktivis Lingkungan usai Hadiri 24 Laga Piala Dunia Pakai Jet Pribadi

Kedengarannya, sih, bagus. Tapi, apakah ini akan punya dampak serius dalam kadar CO2 kita? Dan bagaimanakah penampakan karbondioksida yang sudah didaur ulang?

Upaya penyimpanan karbondioksida sebetulnya sudah ada sejak beberapa dekade lalu. Pada 1970-an, perusahaan minyak yang menggunakan emisi untuk memompa CO2 ke dalam sumur untuk memperbaiki kualitas minyak.

img_title Peringati Hari Lingkungan Hidup, Jakarta Bakal Matikan Lampu Malam Ini 60 Menit

Kita juga bisa mengubah gas polusi tersebut dan menempatkannya di dalam tanah dengan menggunakan teknologi Carbon Capture and Utilization atau CCU. Sekarang teknologi ini sedang naik daun.

Ilustrasi - Seorang karyawan terlihat di anjungan minyak yang dioperasikan oleh perusahaan Lukoil di ladang minyak Kravtsovskoye di Laut Baltik, Rusia.

Photo :
  • ANTARA/REUTERS/Vitaly Nevar

Manajer Program dari Inisiatif Global CO2 di Universitas Michigan, Amerika Serikat (AS) Susan Fancy mengaku sangat antusias dengan CCU. Ia menyebut karbondioksida ada di hampir semua benda.

"Kalau saya pergi ke toko baju, maka sebagian besar kainnya sekarang dibuat dari serat sintetik, yang dasarnya adalah bahan bakar fosil. Lalu kasur, di mana sebagian besar dibuat dari busa poliuretan," kata dia, seperti dikutip dari Deutsche Welle, Minggu, 11 Desember 2022.

Christoph Gürtler mengembangkan produk di perusahaan Covestro, dan tahu sangat banyak tentang busa. Ia menunjukkan sebuah blok besar busa poliuretan, yang berbobot sekitar 10 sampai 20 kilogram.

"Jadi, kita mengambil CO2, dan menggantikan sebagian bahan baku fosil yang dibutuhkan untuk membuat kasur," jelasnya. Proses ini menggantikan sekitar 20 persen yang berasal dari fosil dengan CO2 yang didaur ulang.

Di Uni Eropa, lebih dari 30 juta kasur dibuang setiap tahunnya. Jika itu semua ditumpuk, pasti tingginya sekitar 678 kali tingginya puncak tertinggi Himalaya, Gunung Everest.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut