Prof. Satyanegara Resmi Diangkat Jadi Ketua Wali Amanat FK di President University
- Istimewa
Beberapa temuan penting pada era ini, papar Prof. Satyanegara, adalah penicilin sebagai antibiotik, identifikasi DNA dan genetik, CT-Scan, MRI, PET-Scan, bahkan termasuk transplantasi organ, stem-cell dan genomik. “Salah satu yang sangat fenomenal adalah human genom project. Proyek ini melibatkan ilmuwan dari 20 institusi dan enam negara, yakni Jepang, China, Prancis, Inggris dan AS,” urai Prof. Satyanegara.
Pada periode keempat, yang dimulai sejak tahun 2020, dunia kedokteran memasuk era Preventive Medicine, yang kerap juga disebut Future Medicine. “Ciri khas era ini adalah lebih mengutamakan pencegahan. Hal tersebut ditandai dengan upaya untuk menemukan gejala yang lebih spesifik, memperbaikinya dan bahkan menghentikan gejala sesuai dengan penyakitnya,” papar Prof. Satyanegara.
Era tersebut, lanjut Prof. Satyanegara, juga ditandai dengan metode pengobatan yang lebih personal dan presisi. Urainya lebih lanjut, “Ini dimungkinkan berkat adanya upaya pemetaan genom dari setiap orang, penggunaan big data dan artificial intelligence, nanomedicine, biologi molekuler dan bioteknologi.”
Peran Bioteknologi
Untuk bioteknologi, menurut Prof. Satyanegara, penerapannya sebetulnya sudah dilakukan sejak zaman dahulu. Ini terbukti dari adanya upaya manusia untuk melakukan fermentasi, rotasi tanaman, atau penggunaan insektisida alami untuk meningkatkan produksi pertanian dan pangan.
Dalam kuliah tamu tersebut Prof. Satyanegara menjelaskan tentang empat prinsip dasar bioteknologi, yakni penggunaan agen biologi, diterapkannya metode tertentu, mampu menghasilkan produk turunan, dan melibatkan berbagai disiplin ilmu atau multidisiplin.
Banyak manfaat yang diperoleh bidang kedokteran melalui pengembangan bioteknologi. Di antaranya, manusia bisa melakukan rekayasa genetika, membuat hormon insulin, kloning, antibiotik, vaksin, sel punca dan masih banyak lagi lainnya. Menurut Prof. Satyanegara, semua itu pada akhirnya berdampak positif karena bioteknologi membuat manusia semakin mampu mencegah terjadinya penularan penyakit. Katanya, dengan mengutip data Malacard: The Human Disease Database, sampai dengan tahun 2017 sudah ada 22.811 penyakit di dunia ini.
Adanya bioteknologi juga memicu penemuan berbagai obat untuk penyakit yang berbahaya, dan masyarakat pun menjadi lebih mudah mengakses layanan kesehatan. “Semua itu terjadi karena biokteknologi membuat ilmu kesehatan menjadi semakin berkembang,” kata Prof. Satyanegara. Jadi, tegas dia saat menutup kuliah tamunya, sangat penting untuk menguasai bioteknologi dalam bidang kesehatan.
