Raih Habibie Prize, Guru Besar Filologi UIN Jakarta: Indonesia Emas Tak Boleh Lupakan Kearifan Lokal
- Istimewa
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Oman Fathurahman (tengah).
- Istimewa
“Apalagi, kebudayaan Indonesia sangat kental dengan nilai-nilai spiritualitas keagamaan yang telah melekat menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa Indonesia. Itu semua terekam dalam manuskrip-manuskrip Nusantara,” sebutnya.
Kang Oman menilai, Habibie Prize 2023 yang dia terima adalah secercah harapan bahwa filologi, manuskrip, dan kebudayaan, akan semakin diperhatikan publik dan bahkan dijadikan bahan pertimbangan oleh policy makers. Ia yakin, kebijakan tanpa kebudayaan, akan kehilangan kebijaksanaan.
“Syukur-syukur kalau Penghargaan ini secara lebih konkrit juga dapat menginspirasi dunia politik kita, bahwa banyak kearifan lokal yang belum dijadikan sumber inspirasi dalam berkontestasi. Bagi saya ini penting, karena saya meyakini, politik tanpa budaya hanya akan menjadi alat berebut kuasa,” tandasnya.
Filologi Plus
Sebagai Guru Besar di FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman menggagas istilah Filologi Plus. Filologi adalah sebuah alat atau perangkat metodologis untuk melakukan investigasi ilmiah atas teks-teks tulisan tangan (manuscript) dengan menelusuri sumbernya, keabsahan teksnya, karakteristiknya, serta sejarah lahir dan penyebarannya. Dalam tradisi Arab, filologi disebut “tahqiq”, yang artinya membetulkan atau mengkritik. Tugas seorang filolog memang membaca dan mengkritisi teks dalam manuskrip-manuskrip kuno tulisan tangan untuk mencari keaslian bacaan sebagaimana ditulis oleh pengarang, kemudian menghadirkan bacaan itu untuk pembaca lain.
Oman melihat, sejak masa kolonial hingga awal 1990-an, kerja-kerja filologi lebih banyak fokus memproduksi transliterasi dan terjemahan. Paling jauh, terjemahan disertai analisis struktur atau pendekatan bahasa dan sastra, tidak secara mendalam mengkaji konteks pengetahuan dalam teks yang dihadirkan.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Oman Fathurahman (tengah).
- Istimewa
Sebagai lulusan pesantren, Oman merasa tidak puas ketika menyunting sebuah teks keagamaan tentang tasawuf, tentang ketuhanan yang berisi filsafat ilmu pengetahuan Islam yang cukup kontroversial, tapi tidak mengupas sendiri teks dan konteks tersebut. Karenanya, Oman lalu berupaya memposisikan diri tidak hanya sebagai “koki filologi” yang bertugas memasak sebuah teks “mentah” dalam manuskrip, melainkan sekaligus sebagai penikmat “masakan” teks itu berdasarkan konteks keilmuan keislaman yang dimilikinya.
“Inilah yang saya maksud dengan filologi plus, mengawinkan filologi dengan beragam pendekatan ilmu dan menguatkan kontekstualisasi. Filologi Plus meniscayakan kerja filologi yang dilakukan secara interdisiplin atau multidisiplin dengan kajian ilmu lain. Dalam konsentrasi saya, filologi plus adalah filologi yang dipadukan dengan kajian Islam atau sejarah sosial intelektual Islam di Indonesia,” ucapnya.
