Puluhan Tokoh Lintas Agama Buka Puasa Bareng
- Istimewa
"Saya seorang ibu. Setiap Ramadan menyenangkan. Ibu-ibu bisa berkreasi membuat takjil paling enak buat keluarganya. Ramadan itu bulan nyata untuk bisa toleran kepada kaum muslimin," ucapnya.
Wakil dari Khonghucu, Wandi Suwardi bercerita tentang pengalaman hidup di tengah masyarakat muslim. Dia tidak merasa sendiri. "Saat ramadan penuh berkah. Ikut jajan sore hari. Pagi ikut bangun sahur," ujarnya.
Sekretaris Komite Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan pada Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Rm. Agustinus Heri Wibowo, merasa Ramadan sarat akan pengalaman yang mempersatukan dan menggembirakan.
"Kami merayakan itu bukan semata hari raya muslim, tapi milik bersama. Kita tidak ikut puasa tapi Idul Fitri paling semangat. Kita ikut minta maaf. Ramadan adalah pengalaman yang mempersatukan," jelasnya.
Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof Amany Lubis, wakil Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Dr. I Wayan Kantun Mandara, dan wakil Sangha Theravada Bhante Dhammasubho Mahathera, berbagi tentang konsep puasa.
Menyitir QS Al Baqarah: 183, Prof Amany menjelaskan konsep puasa bukan hanya milik umat Islam. Umat Islam mengakui dan meyakini bahwa puasa adalah amalan yang biasa dilakukan semua umat manusia sejak adanya manusia sampai akhir zaman
"Semua agama, tradisi, dan budaya memiliki tradisi puasa. Bentuknya beragam. Yang menyatukan kita semua adalah puasa," kata Prof Amany.
Menurut I Wayan Kantun Mandara, puasa berasal dari kata upa dan wasa. Upa mendekatkan diri. Wasa nama Tuhan. "Puasa adalah segala aktivitas kegiatan umat yang selalu mendekatkan diri pada Tuhan," tuturnya.
Sementara Banthe Dhammasubho dari Buddha menjelaskan puasa dark Bahasa Palu, bahasa Buddha pada zaman itu. Puasa berasal dark kata Upo Sata atau Posa. Di bahasa jawa, disebut menjadi Poso.
"Puasa bukan bahasa Arab tapi bahasa Buddha. Sunan Kalijaga milih kata itu dari pada shiyam," terangnya sembari mengatakan telah menjalani puasa menurut ajaran Buddha hingga 40 tahun.
Buka Puasa Bersama Tokoh Agama "Bhinneka Rasa Satu Persaudaraan" ditutup dengan penyiraman pohon Butun (simbol perdamaian) oleh tujuh tokoh agama.
