Menakar Keberpihakan Negara Terhadap Politeknik Swasta
Jumat, 1 November 2024 - 16:17 WIB
Sumber :
- ANTARA FOTO/Ampelsa
Dalam proses operasionalnya, politeknik swasta ini sering dihadapkan pada berbagai tantangan yang memerlukan intervensi negara lebih jauh agar dapat bersaing dan berkontribusi lebih optimal. Beberapa tantangan utama yang dihadapi antara lain:
- Keterbatasan Pendanaan: Salah satu kendala terbesar yang dihadapi politeknik swasta adalah keterbatasan dana. Berbeda dengan perguruan tinggi negeri yang mendapatkan subsidi dan bantuan dana dari pemerintah, politeknik swasta mengandalkan biaya operasional dari mahasiswa, serta dukungan pihak industri yang terkadang tidak cukup. Padahal, pendidikan vokasi membutuhkan investasi besar dalam hal fasilitas dan infrastruktur praktikum, teaching factory, bengkel, dan teknologi mutakhir sesuai yang digunakan di DUDI (Dunia Usaha dan Dunia Industri).
- Sumber Daya Manusia (SDM): Dosen di politeknik swasta sering kali menghadapi tantangan terkait peningkatan kompetensi. Selain kualifikasi akademik, tenaga pengajar vokasional juga harus memiliki pengalaman praktis di industri maupun sertifikasi kompetensi, program-program dari Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Vokasi dalam meningkatkan kualitas pengajar yang meliputi magang, pelatihan, dan sertifikasi belum sepenuhnya bisa banyak menyasar dosen pada politeknik swasta, yang pada akhirnya terkadang dosen tersebut sulit dipertahankan di politeknik swasta karena keterbatasan dana untuk memberikan akses dalam peningkatan kompetensi atau insentif yang kompetitif, karena tidak sebanding dengan tuntutan kualifikasinya.
- Akses Kerja Sama dengan Industri: Hubungan antara politeknik swasta dan dunia industri belum sekuat yang diharapkan. Sementara perguruan tinggi negeri lebih mudah menjalin kerja sama strategis dengan industri, politeknik swasta sering kali mengalami kesulitan dalam mengakses mitra industri besar untuk mendapatkan CSR (Corporate Social Responsibility), menyalurkan alumni untuk penempatan kerja, program beasiswa untuk mahasiswa, atau dana hibah penelitian terapan.
- Stigma terhadap Politeknik Swasta: Politeknik Swasta masih sering dijadikan sebagai pilihan terakhir oleh calon mahasiswa baru dan orang tuanya dalam menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tidak sedikit masyarakat yang memandang politeknik swasta sebagai pilihan yang kurang prestisius, kurang bergengsi atau kelas akhir, sehingga menyebabkan rendahnya minat terhadap politeknik swasta.
- Persaingan dalam Penerimaan Mahasiswa Baru yang Semakin Kompetitif: Setelah diterbitkannya regulasi mengenai PTN BH dan PTN BLU, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berlomba-lomba menerima banyak mahasiswa baru dengan membuka berbagai macam skema masuk PTN untuk membiayai operasional dan memperkaya kampus. Terlebih setelah Perguruan Tinggi akademik juga diberikan keleluasaan untuk menyelenggarakan program studi vokasi. Hal ini membuat kesenjangan dan permasalahan tersendiri bagi politeknik swasta, karena persaingan dalam mendapatkan mahasiswa baru semakin kompetitif dan semakin sulit, bargaining position politeknik swasta-pun cukup jauh jika dibandingkan dengan PTN atau PT akademik.
- Instrumen akreditasi pendidikan vokasi: Perlunya penyesuaian atau pembeda penilaian penjaminan mutu melalui BAN-PT pada instrumen akreditasi khusus untuk Pendidikan Tinggi Vokasi, sehingga pendekatannya tidak menggunakan pendekatan akademik, seperti publikasi ilmiah jurnal scopus atau syarat perlu dosen berkualifikasi S3 (yang tentunya ini cukup berat dijangkau oleh oleh pengelola politeknik swasta).
Halaman Selanjutnya
Dalam menjalankan perannya sebagai penyelenggara pendidikan vokasi, keberlangsungan politeknik swasta sangat perlu didukung dengan kehadiran dan peran negara lebih jauh, keberpihakan negara terhadap politeknik swasta perlu dikonkritkan dengan beragam kebijakan inklusif-nya, seperti: pemberian subsidi atau insentif khusus terutama untuk keperluan fasilitas dan infrastruktur praktikum, memfasilitasi dalam menjalin kerja sama strategis dengan sektor industri dalam program untuk mendapatkan CSR (Corporate Social Responsibility), menyalurkan alumni untuk penempatan kerja, program beasiswa untuk mahasiswa, atau dana hibah penelitian terapan.
