Denny JA Hibahkan Dana Abadi untuk Festival Tahunan Puisi Esai

Denny JA
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VoxPop – Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA menghibahkan dana abadi untuk Festival Tahunan Puisi Esai. Dengan dana abadi itu, Festival Puisi Esai dapat berlangsung hingga 50 tahun mendatang, dan seterusnya.

img_title Buku Puisi Esai Denny JA Diterjemahkan 35 Bahasa

Denny mengatakan, sastra adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, penelitian menunjukkan bahwa membaca sastra meningkatkan empati. Para pembaca sastra cenderung lebih memahami penderitaan orang lain, lebih peka terhadap keragaman identitas, dan lebih peduli terhadap ketidakadilan.

"Namun, di sisi lain, komunitas sastra jangka panjang tidak dapat hidup dari hukum pasar saja. Seni membutuhkan subsidi; sastra membutuhkan uluran tangan yang memastikan panggungnya tetap ada," kata Denny.

img_title Denny JA Jelaskan Teori Baru di Balik Peristiwa Kerusuhan Asgustus 2025

Denny JA

Photo :
  • Istimewa

Denny terinspirasi oleh beberapa tokoh dunia. Salah satunya yakni Andrew Carnegie, dengan visi mencerdaskan masyarakat dan mendirikan ribuan perpustakaan. Hingga kini, perpustakaan itu menjadi tempat belajar lintas generasi.

img_title Denny JA Ungkap Lahir Kelas Sosial Baru Bernama Pekerja Digital yang Rentan, Apa Itu?

Selain itu, ada juga Alfred Nobel dengan warisan dana abadinya mendanai penghargaan sastra, di samping penghargaan lain.

"Ini memberi pengakuan tertinggi bagi para penulis dunia dan para kreator lainnya," ujarnya.

Lalu, kata Denny, Ruth Lilly melalui The Poetry Foundation menyelamatkan puisi dari pinggiran dunia modern dengan dukungan dana besar dalam sejarah puisi.

"Mereka adalah bukti bahwa seni membutuhkan tangan-tangan dermawan yang mengerti bahwa kebudayaan adalah harta abadi umat manusia," ucapnya.

Ia pun mengungkapkan alasan puisi esai perlu terus dihidupkan, disebarkan, dan dirawat. Menurutnya, puisi esai adalah genre yang menyampaikan kisah nyata dalam bentuk puisi.

"Isu hak asasi manusia, ketidakadilan, marginalisasi, dan identitas sosial menjadi inti setiap puisi. Namun, puisi ini tidak berhenti pada metafora, ia mencatat fakta melalui catatan kaki, menghubungkan estetika dengan realitas," katanya.

Denny menuturkan, catatan kaki di puisi esai menjadi elemen vital yang menjadikan puisi ini bukan hanya seni, tetapi juga dokumen sosial.

Lebih lanjut, Denny mengatakan, Festival Puisi Esai Jakarta menjadi lebih dari sekadar panggung seni. Ia adalah ruang yang menjalankan banyak fungsi.

"Festival ini mempertemukan penulis puisi esai untuk berjumpa, berbagi pengalaman, dan menginspirasi satu sama lain," kata Denny yang merupakan Ketua Umum Satupena.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut