Alami Rasa Nyeri di Area Sensitif Pria Saat Tidur, Berbahayakah?

Pria tidur dan mimpi
Sumber :
  • Pixabay/ Engin_Akyurt

Lifestyle, VoxPop – Menjadi pria dewasa berarti kita perlu semakin memahami diri sendiri, termasuk soal kesehatan area sensitif pria. Banyak masalah pada area ini yang bisa berkembang menjadi serius hanya karena kita kurang menyadarinya sejak awal.

img_title Bukan Lari, Ternyata Ini Olahraga Paling Aman untuk Pria yang Kelebihan Berat Badan

Salah satu kondisi yang mungkin pernah Anda alami belakangan ini namun kerap diabaikan dengan anggapan ‘nanti juga sembuh sendiri’ adalah rasa nyeri pada penis saat tidur yang sampai membuat Anda terbangun. Kondisi ini bisa jadi sleep related painful erection (SRPE).

Melansir laman lybrate, Selasa 2 Desember 2025, sleep-related painful erections tergolong langka dan diperkirakan hanya terjadi pada sekitar satu persen pria dewasa. Namun para ahli menduga angkanya bisa lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak dilaporkan. Jadi, prevalensinya sebenarnya masih belum pasti.

img_title Olahraga Ini Ternyata Punya Efek Besar untuk Kesuburan Pria, Kok Bisa?

Pada kondisi SRPE, seorang pria mengalami satu atau lebih ereksi selama tidur. Ereksi yang muncul saat tidur non-Rapid Eye Movement (REM), biasanya normal dan tidak menimbulkan rasa sakit. Namun ereksi yang muncul saat fase tidur REM justru dapat memicu nyeri hebat pada penis, sampai membangunkan penderitanya dari tidur dan membuatnya sulit kembali terlelap.

Perlu ditekankan bahwa nyeri yang dirasakan pada kondisi ini berbeda jauh dari rasa nyeri biasa karena posisi tidur yang salah saat sedang ereksi. Nyeri SRPE bisa begitu hebat sampai-sampai penderitanya tidak bisa kembali tidur dalam waktu lama. Akibatnya, pria yang mengalami kondisi ini sering merasa lelah, mudah marah, dan berisiko mengalami gangguan mental akibat kurang tidur.

img_title Banyak Dilakukan Tanpa Sadar, Ini 12 Kebiasaan yang Bisa Merusak Kesuburan Pria

Sebagian besar kasus SRPE baru muncul pada pria berusia 40 tahun ke atas, dan keluhan ini cenderung semakin sering terjadi seiring bertambahnya usia. Proses diagnosis cukup menantang karena sering disalahartikan sebagai priapisme. Padahal, penanganan untuk priapisme biasanya tidak efektif untuk kondisi SRPE. Karena itu, diagnosis umumnya dilakukan melalui pemeriksaan di laboratorium tidur.

Penyebab SRPE sendiri masih belum jelas. Karena kasusnya jarang, penelitian yang tersedia juga terbatas dan belum memberikan gambaran pasti. Namun hingga kini, faktor genetik belum ditemukan sebagai penyebab.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut