Sering Taruh Nasi Seperti Ini? Hati-Hati, Bisa Jadi Penyebab Keracunan Makanan

Ilustrasi Nasi yang berwarna kuning dan bau
Sumber :
  • IstockPhoto

VoxPop – Banyak orang merasa sudah paham bagaimana keracunan makanan bisa terjadi. Namun, para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan sehari-hari tetap bisa meningkatkan risiko keracunan.

img_title Jelang Hadapi PSM, Sejumlah Pemain Persis Solo Alami Keracunan Makanan

Seperti dilaporkan The Guardian, kebiasaan saat mengolah makanan tanpa sadar bisa memicu keracunan. Misalnya, penjepit makanan saat barbeku dipakai berulang kali sepanjang siang tanpa dicuci, atau nasi matang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Sekilas terlihat sepele, tetapi kebiasaan ini bisa menciptakan kondisi ideal bagi bakteri berbahaya untuk berkembang.

Keracunan makanan terjadi ketika bakteri, virus, atau racun masuk ke tubuh lewat makanan yang terkontaminasi. Gejalanya bisa sangat bervariasi, tergantung jenis kuman penyebabnya. Ada yang menimbulkan gejala dengan cepat, ada pula yang baru terasa setelah beberapa waktu.

img_title Hati-hati Olah dan Simpan Nasi Seperti Ini Malah Bikin Kamu dan Keluarga Keracunan!

“Beberapa bakteri, seperti Bacillus cereus—yang kadang ditemukan pada nasi yang dipanaskan ulang menghasilkan racun sebelum makanan dikonsumsi. Akibatnya, gejala seperti muntah mendadak bisa muncul hanya dalam hitungan jam,” ujar dokter spesialis NHS, Dr Masarat Jilani kepada The Guardian.

Bakteri yang sama juga bisa menyebabkan diare ketika racun terbentuk di dalam usus. Namun, ada juga bakteri lain yang bekerja dengan cara berbeda.

img_title Meski Enak, Hati-hati Konsumsi Beberapa Bagian Ayam Ini Justru Bisa Bikin Kamu Keracunan!

Apa yang sebenarnya terjadi di dalam usus

Secara teori, dokter bisa menebak penyebabnya dari seberapa cepat gejala muncul. Namun dalam praktiknya, hal itu jarang memberi jawaban pasti. Seperti dijelaskan The Guardian, setiap bakteri punya cara kerja masing-masing.

“Semua bakteri ini bekerja dengan mekanisme yang berbeda. Campylobacter jejuni, yang sering ditemukan pada unggas, berbentuk spiral dan ‘menembus’ lapisan usus. Ini berbeda dengan E. coli penghasil toksin Shiga yang melepaskan racun tertentu. Keduanya sama-sama bisa menyebabkan peradangan usus dan diare,” kata ilmuwan penyakit infeksi., Dr Emma Doughty.

Perbedaan ini penting untuk penanganan. Antibiotik bisa membantu pada beberapa kasus, tetapi pada kondisi lain justru memperparah keadaan.

“Kalau kamu datang ke dokter dengan keluhan sakit perut akibat infeksi, biasanya mereka tidak langsung memberikan antibiotik,” kata Doughty.

Makanan yang sering jadi biang masalah

Lalu, bagaimana cara menurunkan risikonya? Sarannya sebenarnya tidak banyak berubah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut