Benarkah Earphone Nirkabel Bisa Picu Kanker Otak? Ini Penjelasan Dokter Saraf

Ilustrasi earphone
Sumber :
  • Pixabay

VoxPop – Earphone nirkabel kini sudah jadi kebutuhan sehari-hari bagi banyak orang. Namun, pertanyaan soal keamanannya dalam jangka panjang masih sering memicu kekhawatiran. Beredar klaim yang menyebut headset Bluetooth memancarkan radiasi berbahaya bahkan ada yang menyamakannya dengan meletakkan microwave di dekat kepala hingga menimbulkan ketakutan soal kemungkinan kaitannya dengan kanker.

img_title Jangan Sembarangan Pakai Earphone

Di tengah informasi yang simpang siur, penting untuk melihat apa yang sebenarnya dikatakan sains tentang earphone nirkabel dan paparan radiasi. Seorang ahli bedah saraf di Michigan Neurosurgery Institute, Dr. Jay Jagannathan angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa radiasi non-ionisasi yang dipancarkan perangkat seperti AirPods jauh lebih rendah dibandingkan radiasi dari ponsel, sehingga relatif lebih aman.

”Pertama-tama, penting untuk dicatat bahwa jumlah radiasi ionisasi dari sumber frekuensi radio seperti iPod jauh lebih kecil dibandingkan yang dihasilkan ponsel,” kata dia dikutip dari laman Hindustan times, Selasa 30 Desember 2025.

img_title Tanpa Disadari, Kebiasaan Pakai Earphone Terlalu Lama Bisa Merusak Pendengaran

Dia melanjutkan, paparan radiasi dari AirPods sekitar 10 hingga 400 kali lebih rendah daripada ponsel. Logikanya, jika memang ada kaitan dengan penggunaan ponsel, maka kaitan yang sama secara teori juga bisa diterapkan pada AirPods, kata dia.

Bukti kanker jantung

img_title Jangan Bingung, Ini Bedanya Headphone-Earphone-Airpods dan Earbuds

Dr. Jagannathan merujuk pada penelitian yang paling sering dikutip dalam isu ini, yaitu studi dari National Toxicology Program (NTP). Penelitian tersebut meneliti respons fisiologis tikus terhadap paparan radiasi frekuensi radio (RF) dalam jangka panjang dan menemukan adanya kaitan dengan jenis kanker jantung tertentu. Namun, temuan ini kemudian ditinjau oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), yang menyimpulkan tidak ada bukti kuat bahwa efek yang sama terjadi pada manusia.

Ia menjelaskan, mungkin studi yang paling sering dikutip adalah studi NTP, di mana tikus diberi paparan RF dalam dosis besar. Hasilnya, tikus jantan memiliki angka kanker jantung tertentu yang sedikit lebih tinggi dibandingkan tikus betina. Menariknya, pada tikus betina tidak ditemukan perbedaan yang signifikan. Studi ini kata dia kemudian ditinjau FDA sekitar setahun lalu dan disimpulkan bahwa datanya belum cukup untuk mengaitkan radiasi dengan kanker pada manusia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut