Air Mengalir, Kehidupan Tumbuh: Mari Bijak Gunakan Air!
- Freepik
Jakarta, VoxPop – Pagi hari bagi sebagian orang dimulai dengan rutinitas sederhana: membuka keran, mencuci wajah, membuat kopi, lalu menjalani aktivitas seperti biasa. Air mengalir begitu saja, seolah menjadi hal yang selalu tersedia. Namun di banyak tempat di dunia, air tidak sesederhana itu.
Bagi jutaan orang, hari mereka justru dimulai dengan perjalanan panjang hanya untuk mendapatkan air. Mereka berjalan berkilo-kilometer, membawa wadah berat, demi memastikan keluarga mereka bisa memasak, mandi, dan minum hari itu. Bahkan secara global, perempuan dan anak perempuan menghabiskan sekitar 250 juta jam setiap hari hanya untuk mengambil air. Scroll lebih lanjut yuk!
Di saat sebagian orang menganggap air sebagai sesuatu yang biasa, bagi yang lain air adalah perjuangan.
Air Sumber Kehidupan
Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, manusia tidak dapat bertahan hidup, pangan tidak dapat diproduksi, dan kesehatan masyarakat terancam. Dunia sebenarnya telah membuat kemajuan besar. Dalam dua dekade terakhir, sekitar 2,2 miliar orang berhasil mendapatkan akses terhadap air minum yang dikelola secara aman. Namun, perjalanan menuju akses air bersih yang merata masih panjang.
Hingga saat ini, lebih dari 1,8 miliar orang di dunia masih belum memiliki akses air minum langsung di rumah mereka. Artinya, miliaran orang masih harus mencari air setiap hari untuk memenuhi kebutuhan paling dasar mereka.
Dari Krisis Air, Menjadi Krisis Kemanusiaan
Masalah air ternyata bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal kemanusiaan. Di banyak negara, perempuan menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka memikul tanggung jawab utama dalam mengumpulkan air bagi keluarga. Ketika akses air sulit, kesempatan mereka untuk belajar, bekerja, bahkan beristirahat ikut terenggut.
Secara global, lebih dari 1 miliar perempuan masih belum memiliki akses terhadap layanan air minum yang aman. Situasi ini membuat krisis air tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesetaraan dan keadilan sosial.Selain akses air bersih, persoalan sanitasi juga memperparah krisis kemanusiaan ini. Tanpa fasilitas sanitasi yang layak, perempuan rentan terhadap risiko kesehatan, rasa tidak aman, hingga kehilangan martabat.
