Coffee Shop Modern Mulai Ditinggalkan, Tren Kopitiam Diam-diam Kuasai Selera Anak Muda

Ilustrasi kopi hitam.
Sumber :
  • www.freepik.com

Jakarta, VoxPop – Tren kedai kopi di Indonesia terus berevolusi. Di tengah menjamurnya coffee shop modern, konsep kopitiam justru muncul sebagai pemain baru yang kian mencuri perhatian. Mengusung nuansa klasik khas Asia Tenggara, kopitiam kini menjadi alternatif yang digemari, terutama di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, hingga Surabaya.

img_title Banyak yang Salah, Ini Waktu Terbaik Minum Kopi agar Badan Lebih Segar dan Fokus

Data hingga November 2025 mencatat lebih dari 461 ribu kedai kopi tersebar di Indonesia—mulai dari kafe modern hingga warung kopi tradisional. Di tengah pertumbuhan pesat ini, kopitiam hadir dengan pendekatan berbeda: lebih sederhana, namun kuat dari sisi rasa dan pengalaman. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

Konsep kopitiam sendiri bukan hal baru. Berakar dari budaya Malaysia dan Singapura sejak awal abad ke-20, tempat ini dikenal dengan sajian khas seperti kopi tarik, teh tarik, hingga roti kaya toast. Namun, yang membuatnya kembali relevan saat ini adalah kemampuannya beradaptasi dengan selera generasi modern tanpa kehilangan identitas tradisional.

img_title Seloroh Prabowo Mau Jadi Brand Ambassador Kopi: Katanya Bisa Panjang Umur

Menurut Doddy Samsura, perubahan preferensi konsumen menjadi salah satu pendorong utama tren ini.

“Pertumbuhan kopitiam di Indonesia tidak lepas dari perubahan preferensi konsumen yang kini cenderung mencari minuman yang lebih approachable, tidak terlalu kompleks, tetapi tetap kaya rasa dan nyaman dinikmati kapan saja," ujar Doddy dalam keterangannya, dikutip Sabtu 25 April 2026. 

img_title Prabowo: Satu Wisatawan Asing Minum Secangkir Kopi, Hidupi 10 hingga 15 Rakyat Kita

"Selain itu, faktor familiarity juga berperan besar, karena profil rasa kopitiam relatif dekat dengan selera masyarakat lokal. Berbeda dengan specialty coffee yang berfokus pada origin dan teknik seduh, kopitiam justru menekankan pada blending dan konsistensi. Di situlah kompleksitasnya, bagaimana menciptakan rasa yang stabil dan bisa diterima oleh berbagai segmen," sambungnya.

Pendekatan ini membuat kopitiam berada di “tengah”—tidak terlalu tradisional, namun juga tidak sekompleks specialty coffee. Posisi ini justru menjadi keunggulan, karena mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

Selain rasa, pengalaman juga menjadi kunci. Kopitiam tidak hanya menjual minuman, tetapi juga nostalgia dan suasana yang akrab. Banyak tempat kini menggabungkan interior klasik dengan sentuhan modern, menciptakan ruang yang nyaman sekaligus estetik.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut