Duduk Berjam-jam Setiap Hari Bisa Memicu Penyakit hingga Kematian Dini
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu metabolisme insulin dan glukosa serta meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Tak hanya itu, otot juga menjadi lebih lemah karena jarang digunakan.
Duduk terlalu lama juga dapat memicu varises, penggumpalan darah di kaki atau deep vein thrombosis, hingga meningkatkan risiko demensia, kanker, penyakit jantung, dan kematian dini. Lalu, apakah rutin berolahraga bisa mengimbangi efek buruk terlalu banyak duduk?
Scott Lear mengatakan jawabannya adalah ya, tetapi tetap tergantung pada seberapa aktif seseorang dan berapa lama waktu duduknya setiap hari. “Menjadi aktif, bahkan di tengah periode duduk yang panjang, tetap lebih baik daripada tidak aktif sama sekali,” jelasnya.
Dalam studi yang ia tulis bersama timnya, peningkatan durasi duduk tetap berkaitan dengan risiko kematian dini, terlepas dari seberapa aktif seseorang. Namun, risikonya jauh lebih tinggi pada mereka yang kurang bergerak.
Bagi orang yang memenuhi pedoman aktivitas fisik WHO, duduk lebih dari enam jam per hari memiliki risiko yang setara dengan orang yang duduk kurang dari enam jam tetapi tidak memenuhi pedoman aktivitas fisik.
Karena itu, solusi terbaik bukan sekadar berdiri lebih lama, melainkan mengganti waktu duduk dengan lebih banyak bergerak. “Penelitian kami menemukan bahwa mengganti 30 menit waktu duduk dengan bergerak dapat menurunkan risiko kematian dini sebesar 2 persen pada orang yang duduk lebih dari empat jam per hari,” ujarnya.
Namun, jika sulit menyediakan waktu 30 menit sekaligus, cukup memecah waktu duduk setiap 20 hingga 30 menit dengan dua menit aktivitas ringan seperti berjalan kecil, squat, jumping jack, atau sekadar berdiri dan bergerak.
“Memecah waktu duduk setiap 20–30 menit dengan dua menit aktivitas sudah cukup untuk menjaga metabolisme tetap berjalan dan membantu mengatur kadar insulin serta glukosa,” kata Scott Lear.
