Lawan Food Noise, Inovasi Medis Ini Bantu Penderita Obesitas Turunkan Berat Badan

Hamburger, obesitas, kegemukan, kekenyangan
Sumber :
  • pixabay/ jeonomias

Jakarta, VoxPop – Tantangan terbesar dalam mengelola berat badan tak hanya soal menahan lapar, tapi menghentikan pikiran tentang makanan. Kondisi ini dikenal sebagai food noise, yakni dorongan pikiran terus-menerus tentang makanan bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan.

img_title Tak Perlu Diet yang Menyiksa, Ikuti Secara Konsisten Tips Mudah Menurunkan Berat Badan

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), dr. Iflan Nauval menjelaskan, food noise bukan sekadar keinginan makan biasa, tetapi mencerminkan bagaimana otak merespons makanan, stres, kebiasaan, dan lingkungan.

“Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks," kata dr. Iflan dalam keterangannya, Jumat, 8 Mei 2026.

img_title Novo Nordisk Ajak Masyarakat Pahami Dampak Obesitas terhadap Kesehatan Perempuan

Wasekjen Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), dr. Iflan Nauval

Photo :
  • [Istimewa]

"Karenanya, memahami food noise sangat penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi,” ujarnya.

img_title Benarkah Makan 3 Kali Sehari itu Baik? Ternyata Kebiasaan ini Bisa Memicu Timbulnya Penyakit

Iflan menjelaskan, saat ini paradigma penanganan obesitas telah bergeser dari sekadar ‘hitung kalori’ menjadi ‘perbaiki biologi’. Dalam pendekatan ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis merupakan hal yang saling melengkapi (complementary), untuk memperbaiki mekanisme tubuh yang tidak bisa diselesaikan oleh diet saja.

"Fokus kita bukan lagi sekadar menurunkan angka di timbangan, melainkan perlindungan fungsi organ dan peningkatan kualitas hidup pasien," kata Iflan.

Menurutnya, inovasi medis seperti GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) Novo Nordisk, berperan dalam membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang melalui pusat pengaturan nafsu makan di otak.

Dengan bekerja pada jalur biologis yang mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, inovasi ini terbukti secara klinis dapat memperbaiki kontrol makan melalui penurunan rasa lapar, pengurangan keinginan makan, serta peningkatan rasa kenyang.

"Hal ini secara langsung membantu mengurangi asupan kalori dan meredakan dorongan makan berlebih, termasuk food noise," ujarnya.

Associate Director, Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, Riyanny Meisha Tarliman mengatakan, kehadiran inovasi GLP-1 RA ini memberikan harapan yang meringankan, bagi individu yang berjuang menghadapi gangguan pikiran terkait makanan. Hal itu sekaligus melengkapi perubahan gaya hidup, sebagai bagian dari penanganan yang lebih komprehensif.

"Secara klinis, terapi GLP-1 RA Novo Nordisk telah menunjukkan manfaat dalam mendukung penurunan berat badan yang signifikan, sehingga 1 dari 3 pasien dapat kehilangan lebih dari 20 persen berat badan," kata Riyanni.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut