Mengenal Trauma Bonding, Kondisi Psikologis yang Membuat Seseorang Sulit Mengakhiri Hubungan Toxic
- Freepik
Jakarta, VoxPop – Hubungan yang tidak sehat sering kali membuat orang bertanya, mengapa seseorang tetap bertahan meski terus disakiti. Dari luar, keputusan untuk mengakhiri hubungan mungkin terlihat mudah. Namun, bagi korban, kenyataannya jauh lebih rumit karena ada berbagai faktor psikologis yang membuat mereka merasa sulit melepaskan diri.
Salah satu kondisi yang banyak dibahas oleh para psikolog adalah trauma bonding. Istilah ini menggambarkan ikatan emosional yang kuat antara korban dan pelaku kekerasan.
Ikatan tersebut dapat membuat korban tetap mencintai, membela, bahkan kembali kepada orang yang telah menyakitinya berkali kali. Trauma bonding bukanlah tanda kelemahan, melainkan respons psikologis yang dapat muncul akibat siklus kekerasan dan manipulasi yang berlangsung terus menerus.
Lantas, apa sebenarnya trauma bonding? Berikut penjelasannya beserta tanda-tanda yang perlu Anda waspadai, sebagaimana dirangkum dari Psychology Today, Selasa, 30 Juni 2026.
Apa Itu Trauma Bonding?
Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku akibat pola hubungan yang diwarnai kekerasan, manipulasi, serta kasih sayang yang muncul secara bergantian.
Menurut para ahli, hubungan seperti ini biasanya tidak langsung dipenuhi kekerasan. Pada awalnya, pelaku sering menunjukkan perhatian, kasih sayang, dan membuat korban merasa sangat dicintai. Namun, seiring waktu, perilaku tersebut berubah menjadi penghinaan, ancaman, kontrol berlebihan, atau kekerasan fisik maupun emosional.
Setelah melakukan tindakan menyakitkan, pelaku biasanya kembali bersikap baik, meminta maaf, memberikan hadiah, atau berjanji akan berubah. Siklus tersebut terus berulang hingga akhirnya menciptakan ikatan emosional yang sangat kuat.
1. Selalu Berharap Pelaku Akan Berubah
Korban trauma bonding biasanya masih percaya bahwa pelaku bisa kembali menjadi sosok yang baik seperti di awal hubungan. Harapan tersebut membuat korban terus memberikan kesempatan meski janji untuk berubah berkali kali tidak pernah benar benar ditepati.
2. Sulit Meninggalkan Hubungan Meski Sering Disakiti
Salah satu ciri paling umum adalah merasa sangat sulit mengakhiri hubungan. Korban bisa saja menyadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat. Namun, setiap kali mencoba pergi, muncul rasa rindu, bersalah, atau keinginan untuk kembali kepada pelaku.
