Dampak Serius Penggunaan Nebulizer yang Tidak Tepat pada Anak
- Freepik
VoxPop –Bicara soal kesehatan anak, masalah pernapasan seringkali jadi momok yang membuat orang tua cemas. Apalagi, kasus penyakit yang menyerang pernafasan anak masih terbilang tinggi. Sebagai contoh, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 dari Kementerian Kesehatan, angka kejadian asma pada anak usia 4 tahun ke bawah mencapai 70.771 kasus.
Penanganan yang tepat sejak awal sangat penting untuk mencegah perburukan kondisi, terutama pada pasien dengan asma, bronkiolitis maupun beberapa penyakit paru kronis yang membutuhkan terapi inhalasi atau penggunaan nebulizer. Nebulizer adalah alat medis yang digunakan untuk mengubah obat cair menjadi uap halus (aerosol) agar dapat dihirup langsung ke saluran pernapasan. Alat ini umumnya digunakan untuk membantu pengobatan gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis, bronkiolitis, hingga infeksi saluran napas tertentu. Dengan bentuk uap, obat dapat bekerja lebih cepat dan efektif karena langsung masuk ke paru-paru tanpa harus melalui sistem pencernaan.
Terkait nebulizer, Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi(K), mengatakan edukasi mengenai pengelolaan penyakit pernapasan perlu terus diperkuat, termasuk mendorong keluarga untuk mampu melakukan terapi inhalasi secara benar di rumah sesuai rekomendasi dokter. Dia menjelaskan bahwa penggunaan nebulizer yang tidak tepat dapat memicu efek samping yang serius.
“Misalnya salah satu obat yang mengandung steroid, Ketika terkena mata dan dalam jangka waku lama hati-hati bisa menjadi katarak. Kemudian golongan antikolonergik itu bisa menyebabkan tekanan intraocular atau tekanan bola mat akita menjadi tinggi bisa glaucoma kelainannya,” kata dia di Jakarta, Kamis 2 Juli 2026.
Ia juga menambahkan bahwa kenyamanan selama proses inhalasi menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan terapi pada anak. Oleh karena itu, ia menyarankan penggunaan perangkat inhalasi yang tidak membuat anak cemas sehingga dapat meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan.
“Pada anak-anak, keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh obat yang diberikan, tetapi juga oleh kenyamanan selama proses inhalasi. Perangkat yang tidak bising, mudah digunakan, dan memungkinkan terapi dilakukan tanpa membuat anak semakin cemas dapat membantu meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan,” sambung dia.
