Pernah Kena DBD Gak Menjamin Kebal, Dokter Ungkap Faktanya!
- VoxPop.co.id/Andrew Tito
Pernyataan tersebut sekaligus meluruskan anggapan bahwa pernah mengalami DBD berarti tubuh telah terlindungi sepenuhnya. Karena masih ada kemungkinan infeksi ulang, langkah pencegahan tetap harus dilakukan secara konsisten oleh seluruh anggota keluarga.
Risiko DBD Ada Sepanjang Tahun
Selain soal kekebalan, dr. Ikhsan juga menyoroti kesalahpahaman lain yang masih banyak dipercaya masyarakat, yakni DBD hanya mengancam saat musim hujan.
“DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat. Pada musim kemarau, tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin,” jelas dr. Ikhsan.
Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang umumnya aktif pada pagi dan sore hari. Waktu tersebut bertepatan dengan jam ketika anak berangkat maupun pulang sekolah, sehingga risiko paparan dapat terjadi baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar.
Tak hanya itu, infeksi dengue juga tidak selalu menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Berdasarkan hasil penelitian di Asia Tenggara dan Amerika Latin, hampir setengah anggota keluarga pasien DBD diperkirakan ikut terinfeksi, sementara sebagian besar kasus tersebut tidak menunjukkan gejala. Kondisi ini membuat penularan kerap tidak disadari sehingga upaya pencegahan menjadi semakin penting.
Dampaknya Tak Hanya pada Kesehatan Anak
DBD tidak hanya menyebabkan demam tinggi, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas belajar anak. Proses pemulihan bahkan bisa berlangsung cukup lama sehingga anak belum tentu langsung kembali bugar meski sudah dinyatakan sembuh.
“Anak yang terkena DBD dapat absen dari sekolah dan tertinggal pelajaran. Demam, nyeri tubuh, mual, muntah, dan kelelahan dapat membuat anak kesulitan menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan setelah dinyatakan pulih, sebagian pasien masih dapat mengalami kelelahan selama beberapa minggu. Jadi, ketika anak sudah kembali duduk di kelas, belum tentu kondisi fisiknya telah sepenuhnya kembali seperti semula,” jelas dr. Ikhsan.
Selain berdampak pada pendidikan anak, DBD juga dapat membebani kondisi ekonomi keluarga. Studi Universitas Gadjah Mada memperkirakan beban ekonomi akibat dengue di Indonesia pada 2024 mencapai hampir Rp9 triliun. Beban tersebut berasal dari biaya pengobatan, transportasi, kebutuhan selama perawatan, hingga hilangnya pendapatan ketika orang tua harus mendampingi anak yang sakit.
