Tenis vs Padel, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan? Ini Manfaatnya

ilustrasi olahraga padel
Sumber :
  • Ayo Indonesia

Padel menggabungkan sejumlah unsur tenis dan squash. Permainan umumnya dilakukan secara ganda di lapangan berukuran 10 x 20 meter yang dikelilingi dinding atau panel. Raketnya tidak menggunakan senar seperti raket tenis, melainkan berbentuk padat dengan lubang-lubang pada permukaannya. Bola yang digunakan menyerupai bola tenis.

img_title Setelah Wakil Indonesia Habis, Jepang Mendominasi Men's World Tennis Championship 2026

Salah satu karakter menarik padel adalah penggunaan dinding dalam permainan. Bola dapat memantul dari dinding sesuai aturan sebelum dikembalikan kepada lawan. Hal ini membuat pemain tidak hanya mengandalkan kekuatan pukulan, tetapi juga penempatan bola, refleks, kelincahan, dan strategi.

Dari perspektif kesehatan, padel dapat menjadi aktivitas aerobik sekaligus melatih gerak fungsional. Pemain harus bergerak ke berbagai arah, melakukan ayunan raket, menjaga keseimbangan, serta bereaksi terhadap pergerakan bola.

img_title Perjuangan Petenis Indonesia Terhenti di Men's World Tennis Championship 2026 Seri Kedua

Olahraga ini juga relatif menarik bagi pemula karena lapangannya lebih kecil dibandingkan lapangan tenis dan umumnya dimainkan secara berpasangan. Namun, intensitas permainan tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing.

Popularitas padel di Indonesia terlihat dari semakin banyaknya fasilitas dan komunitas yang bermunculan. Olahraga ini semakin populer di kalangan masyarakat urban, termasuk profesional muda dan komunitas olahraga sosial. 

img_title Petenis 16 Tahun Indonesia Lolos ke Babak Kedua Men's World Tennis Championship

Salah satu alasan tenis dan padel semakin menarik adalah berkembangnya komunitas olahraga. Komunitas dapat membuat seseorang lebih konsisten berolahraga karena aktivitas dilakukan bersama orang lain. Selain latihan, komunitas biasanya menjadi ruang untuk bertukar pengalaman, mencari partner bermain, mengikuti pertandingan, hingga membangun relasi sosial.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa olahraga raket tidak hanya berkembang sebagai kegiatan rekreasi, tetapi juga sebagai aktivitas sosial yang mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak.

3. Baik Tenis Maupun Padel Punya Manfaat untuk Kebugaran

Terlepas dari pilihan olahraga, manfaat kesehatan terbesar tetap berasal dari konsistensi melakukan aktivitas fisik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150-300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas berat selama 75-150 menit per minggu. WHO juga menganjurkan latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam sepekan.

Aktivitas fisik secara rutin berkaitan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, hipertensi, serta sejumlah penyakit tidak menular. Aktivitas fisik juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental, termasuk membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan serta meningkatkan kualitas hidup.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut