Sebelum Skincare Modern, Begini Ritual Perawatan Tubuh Para Perempuan
- U-Report
VoxPop – Jauh sebelum industri kecantikan berkembang seperti sekarang, perempuan telah memiliki berbagai cara untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulit. Perawatan tubuh dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di alam, mulai dari rempah, bunga, daun, hingga akar tanaman.
Salah satu tradisi yang masih dikenal hingga kini adalah luluran. Ritual ini telah menjadi bagian dari budaya perawatan tubuh Nusantara dan erat kaitannya dengan tradisi keraton, khususnya di Yogyakarta.
Bagi perempuan zaman dahulu, merawat tubuh bukan sekadar persoalan penampilan. Ritual tersebut juga menjadi cara untuk memberikan waktu bagi tubuh untuk beristirahat sekaligus menciptakan rasa tenang setelah menjalani berbagai aktivitas.
Lantas, seperti apa sebenarnya ritual perawatan tubuh perempuan zaman dahulu dan bagaimana luluran dapat dilakukan saat ini? Berikut beberapa hal yang perlu diketahui.
1. Mengandalkan bahan-bahan dari alam
Perempuan pada masa lalu banyak memanfaatkan kekayaan alam untuk melakukan perawatan tubuh. Bahan seperti rempah-rempah, bunga, daun, akar tanaman, hingga berbagai jenis tanaman aromatik diolah menjadi ramuan untuk membersihkan dan merawat kulit.
Menggunakan racikan rempah-rempah pilihan seperti bunga, daun, dan akar tanaman, lulur dipercaya mampu menutrisi kulit secara mendalam sekaligus memberikan ketenangan bagi tubuh dan pikiran.
Pemanfaatan bahan alami tersebut juga menunjukkan bahwa konsep perawatan kulit sebenarnya telah dikenal jauh sebelum munculnya berbagai produk kecantikan modern.
2. Luluran menjadi bagian penting dari ritual kecantikan
Lulur bekerja dengan cara membantu mengangkat sel kulit mati yang menumpuk di permukaan kulit. Penggunaan lulur secara tepat dapat membuat kulit terasa lebih halus dan bersih.
Namun, luluran sebaiknya tidak dilakukan dengan menggosok kulit terlalu keras. Kulit tubuh tetap membutuhkan perlakuan lembut agar lapisan pelindung alaminya tidak terganggu.
Ritual ini tidak hanya menjadi simbol kecantikan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap keseimbangan antara alam dan tubuh yang diwariskan turun-temurun sebagai rahasia perawatan kulit para bangsawan.
Dalam konteks modern, luluran juga dapat menjadi bagian dari rutinitas perawatan diri yang dilakukan secara berkala.
3. Begini cara luluran yang benar
Agar manfaatnya maksimal, lulur sebaiknya digunakan pada kulit tubuh yang sudah dibersihkan. Setelah mandi, aplikasikan lulur pada kulit dalam kondisi lembap.
Oleskan secara merata, kemudian pijat dengan gerakan melingkar secara perlahan. Berikan perhatian lebih pada area yang cenderung kasar atau mudah mengalami penumpukan sel kulit mati, seperti siku, lutut, tumit, dan bagian tubuh lainnya.
Hindari menggosok terlalu kuat karena dapat menyebabkan kulit menjadi kemerahan atau terasa perih. Setelah selesai, bilas tubuh menggunakan air hingga bersih dan lanjutkan dengan pelembap untuk membantu menjaga kelembapan kulit.
4. Tidak perlu dilakukan setiap hari
Luluran tidak harus dilakukan setiap kali mandi. Eksfoliasi yang terlalu sering justru berpotensi membuat kulit kering dan sensitif.
Untuk sebagian besar orang, luluran dapat dilakukan sekitar satu hingga dua kali dalam seminggu. Frekuensinya dapat disesuaikan dengan kondisi kulit. Pemilik kulit yang mudah sensitif sebaiknya melakukan eksfoliasi lebih jarang dan memilih bahan dengan tekstur yang lembut.
Luluran juga dapat dilakukan ketika tubuh terasa kusam, kulit terasa lebih kasar, atau setelah menjalani aktivitas yang membuat tubuh banyak berkeringat. Namun, hindari melakukan eksfoliasi pada kulit yang sedang mengalami luka, iritasi, atau terbakar matahari.
5. Pilih bahan yang memiliki manfaat untuk kulit
Berbagai bahan alami dapat digunakan sebagai inspirasi untuk perawatan tubuh. Salah satunya adalah teh hijau yang mengandung senyawa antioksidan. Kandungan tersebut membantu melindungi kulit dari dampak radikal bebas yang dapat berkontribusi terhadap tanda-tanda penuaan kulit.
Bahan lain yang kerap digunakan dalam perawatan tradisional adalah bunga chamomile. Ekstrak chamomile dikenal memiliki sifat menenangkan sehingga dapat menjadi pilihan untuk perawatan kulit yang membutuhkan sensasi lebih lembut.
Chamomilla recutita extract atau ekstrak chamomile dikenal mampu menenangkan kulit dan membantu meredakan iritasi, sedangkan camellia sinensis leaf extract atau ekstrak teh hijau kaya akan antioksidan yang membantu melawan tanda-tanda penuaan dini serta menjaga elastisitas kulit.
Bunga melati juga dapat dimanfaatkan dalam ritual perawatan tubuh. Selain memiliki aroma khas yang menenangkan, minyak melati dapat membantu memberikan sensasi lembap pada kulit.
Sementara itu, jasminum officinale oil atau minyak melati memberikan kelembapan sekaligus menghadirkan keharuman lembut khas tradisional yang menenangkan.
Sementara itu, niacinamide merupakan salah satu bahan aktif yang banyak digunakan dalam perawatan kulit modern. Kandungan ini dikenal dapat membantu memperbaiki tampilan kulit yang kusam sehingga kulit terlihat lebih cerah dan sehat.
Niacinamide bekerja membantu memperbaiki tampilan kulit kusam, sehingga tampak lebih cerah dan sehat.
6. Luluran bukan hanya soal kecantikan
Bagi perempuan zaman dahulu, ritual merawat tubuh memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mendapatkan kulit yang tampak bersih. Proses mengoleskan ramuan, memijat tubuh, kemudian membilasnya dapat menjadi momen untuk memperlambat aktivitas dan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat.
Perawatan tubuh tradisional juga menjadi bentuk penghormatan terhadap keseimbangan antara alam dan tubuh. "Kami ingin melestarikan budaya Nusantara dan memberikan wawasan tentang kekayaan lokal yang tak kalah dengan produk luar negeri. Lulur Teh Keraton menjadi salah satu yang kami hadirkan agar masyarakat bisa merasakan perawatan ala keraton di rumah,” ujar Brand Executive Purbasari, Carensca.
Konsep tersebut masih relevan hingga sekarang. Di tengah rutinitas yang padat, luluran dapat dijadikan salah satu bentuk perawatan diri sederhana di rumah.
Dengan menggabungkan kebiasaan tradisional dan pengetahuan mengenai perawatan kulit modern, ritual luluran tetap dapat dipertahankan tanpa harus dilakukan secara berlebihan. Setiap penggunaan Purbasari Lulur Mandi Teh Keraton menghadirkan sensasi lembut yang menyelimuti kulit, membersihkan secara menyeluruh hingga ke pori-pori tanpa menghilangkan kelembapan alaminya. Kuncinya adalah memilih bahan yang sesuai, memperhatikan kondisi kulit, melakukan eksfoliasi secara berkala, serta selalu menjaga kelembapan kulit setelahnya.
Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut pada akhirnya menunjukkan bahwa ritual kecantikan tidak selalu harus rumit. Dari bahan-bahan sederhana yang berasal dari alam, perempuan zaman dahulu telah mengenal cara merawat tubuh sekaligus menciptakan waktu khusus untuk relaksasi.
