7 Kesalahan Orang Tua yang Bisa Menjauhkan Hubungan dengan Putranya saat Dewasa

Ilustrasi orang tua dan anak
Sumber :
  • Freepik

VoxPop – Membesarkan anak laki-laki sering kali dianggap lebih mudah dibandingkan anak perempuan. Tak sedikit orang tua yang percaya bahwa anak laki-laki akan tumbuh dengan sendirinya tanpa membutuhkan perhatian emosional yang besar.

img_title Update Besar! Ada Fitur Baru untuk Pemain Roblox di Indonesia

Padahal, anggapan tersebut dinilai sudah tidak lagi relevan. Sejumlah pakar parenting menilai banyak orang tua tanpa sadar melakukan kesalahan dalam pola asuh yang justru membuat hubungan dengan anak laki-laki menjadi renggang saat mereka dewasa.

Psikolog keluarga dan terapis pernikahan menekankan bahwa membangun ikatan yang kuat dengan anak laki-laki bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan ruang untuk berkembang secara emosional. Berikut tujuh kesalahan yang sebaiknya dihindari agar hubungan orang tua dan anak laki-laki tetap hangat hingga mereka dewasa, melansir dari YourTango.

img_title 3 HP Murah untuk Orang Tua: Prioritaskan Layar, Baterai, dan Kemudahan Penggunaan

1. Mempermalukan Anak Saat Menunjukkan Perasaan

Kalimat seperti "laki-laki jangan menangis" atau "harus kuat" masih sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, menurut para ahli, kebiasaan ini justru mengajarkan anak laki-laki untuk menekan emosinya.

img_title Orang Tua Wajib Tahu, Bermain Ternyata Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak yang Optimal

Akibatnya, mereka kesulitan mengenali dan mengungkapkan perasaan ketika dewasa. Emosi yang dipendam berisiko berubah menjadi kemarahan, perilaku agresif, kecanduan, hingga kesulitan membangun hubungan yang sehat.

Sebaliknya, orang tua dianjurkan membantu anak mengenali emosinya, misalnya dengan mengajak mereka mengungkapkan apakah sedang sedih, kecewa, malu, atau kesepian.

2. Membiarkan Media Sosial Menjadi "Guru"

Saat ini banyak anak laki-laki menghabiskan waktu berjam-jam di internet. Jika orang tua kurang terlibat, berbagai konten dari influencer atau komunitas tertentu bisa menjadi sumber utama mereka belajar tentang arti menjadi laki-laki.

Masalahnya, tidak semua pesan yang diterima bersifat positif. Beberapa konten justru menormalisasi sikap merendahkan perempuan, mengagungkan kekuasaan, atau mempromosikan maskulinitas yang keliru.

Karena itu, orang tua perlu aktif berdiskusi mengenai hubungan yang sehat, tanggung jawab, rasa hormat, dan kepercayaan diri sebelum anak mencari jawabannya sendiri di media sosial.

3. Terlalu Melindungi dari Kegagalan

Banyak orang tua berusaha menghindarkan anak dari rasa kecewa. Namun, terlalu sering menyelesaikan masalah untuk anak justru membuat mereka sulit belajar mandiri.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut