7 Kesalahan Orang Tua yang Bisa Menjauhkan Hubungan dengan Putranya saat Dewasa
- Freepik
VoxPop – Membesarkan anak laki-laki sering kali dianggap lebih mudah dibandingkan anak perempuan. Tak sedikit orang tua yang percaya bahwa anak laki-laki akan tumbuh dengan sendirinya tanpa membutuhkan perhatian emosional yang besar.
Padahal, anggapan tersebut dinilai sudah tidak lagi relevan. Sejumlah pakar parenting menilai banyak orang tua tanpa sadar melakukan kesalahan dalam pola asuh yang justru membuat hubungan dengan anak laki-laki menjadi renggang saat mereka dewasa.
Psikolog keluarga dan terapis pernikahan menekankan bahwa membangun ikatan yang kuat dengan anak laki-laki bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan ruang untuk berkembang secara emosional. Berikut tujuh kesalahan yang sebaiknya dihindari agar hubungan orang tua dan anak laki-laki tetap hangat hingga mereka dewasa, melansir dari YourTango.
1. Mempermalukan Anak Saat Menunjukkan Perasaan
Kalimat seperti "laki-laki jangan menangis" atau "harus kuat" masih sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, menurut para ahli, kebiasaan ini justru mengajarkan anak laki-laki untuk menekan emosinya.
Akibatnya, mereka kesulitan mengenali dan mengungkapkan perasaan ketika dewasa. Emosi yang dipendam berisiko berubah menjadi kemarahan, perilaku agresif, kecanduan, hingga kesulitan membangun hubungan yang sehat.
Sebaliknya, orang tua dianjurkan membantu anak mengenali emosinya, misalnya dengan mengajak mereka mengungkapkan apakah sedang sedih, kecewa, malu, atau kesepian.
2. Membiarkan Media Sosial Menjadi "Guru"
Saat ini banyak anak laki-laki menghabiskan waktu berjam-jam di internet. Jika orang tua kurang terlibat, berbagai konten dari influencer atau komunitas tertentu bisa menjadi sumber utama mereka belajar tentang arti menjadi laki-laki.
Masalahnya, tidak semua pesan yang diterima bersifat positif. Beberapa konten justru menormalisasi sikap merendahkan perempuan, mengagungkan kekuasaan, atau mempromosikan maskulinitas yang keliru.
Karena itu, orang tua perlu aktif berdiskusi mengenai hubungan yang sehat, tanggung jawab, rasa hormat, dan kepercayaan diri sebelum anak mencari jawabannya sendiri di media sosial.
3. Terlalu Melindungi dari Kegagalan
Banyak orang tua berusaha menghindarkan anak dari rasa kecewa. Namun, terlalu sering menyelesaikan masalah untuk anak justru membuat mereka sulit belajar mandiri.
Para ahli menjelaskan bahwa kegagalan merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang. Anak laki-laki perlu diberi kesempatan menghadapi tantangan, bertanggung jawab atas kesalahan, dan mencoba kembali setelah gagal.
Dengan cara itu mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, bukan mudah menyerah ketika menghadapi tekanan hidup.
4. Memberikan Standar Berbeda antara Anak Laki-laki dan Perempuan
Masih banyak keluarga yang memberikan lebih banyak tanggung jawab kepada anak perempuan, sementara anak laki-laki cenderung lebih dimaklumi ketika melakukan kesalahan atau menghindari pekerjaan rumah.
Padahal, pola asuh seperti ini dapat membentuk anggapan bahwa urusan rumah tangga maupun pengelolaan emosi adalah tanggung jawab perempuan.
Orang tua sebaiknya menerapkan aturan yang adil kepada semua anak tanpa memandang jenis kelamin. Anak laki-laki juga perlu belajar membersihkan rumah, membantu keluarga, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.
5. Menganggap Peran Ayah Tidak Terlalu Penting
Perkembangan emosional anak laki-laki tidak hanya dipengaruhi oleh ibu. Kehadiran ayah atau figur ayah juga memiliki peran besar.
Anak biasanya belajar dari cara ayah memperlakukan pasangan, mengendalikan amarah, meminta maaf ketika salah, hingga menunjukkan kasih sayang kepada keluarga.
Dengan melihat contoh tersebut, anak memahami bahwa menjadi laki-laki tidak harus identik dengan sikap keras atau menutupi emosi.
6. Tidak Memberikan Contoh Hubungan yang Sehat
Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.
Jika orang tua mampu menyelesaikan konflik dengan komunikasi yang baik, saling menghormati, dan menunjukkan kasih sayang, anak cenderung membawa pola tersebut ketika menjalin hubungan di masa depan.
Contoh ini tidak hanya berlaku dalam hubungan suami istri, tetapi juga persahabatan dan hubungan dengan anggota keluarga lainnya.
7. Terlalu Sering Membenarkan Perilaku Buruk dengan Kalimat "Namanya Juga Anak Laki-laki"
Ungkapan "boys will be boys" atau "namanya juga anak laki-laki" sering digunakan untuk memaklumi perilaku agresif, kasar, atau tidak bertanggung jawab.
Menurut para pakar, kebiasaan ini justru mengirimkan pesan bahwa perilaku buruk adalah sesuatu yang wajar bagi laki-laki.
Padahal, anak laki-laki juga perlu diajarkan bahwa menjadi pribadi yang kuat tidak bertentangan dengan sikap lembut, penuh empati, bertanggung jawab, serta mampu menghormati orang lain.
Pola Asuh Hari Ini Menentukan Kedekatan di Masa Depan
Hubungan yang erat antara orang tua dan anak laki-laki tidak terbentuk secara instan ketika mereka dewasa. Ikatan tersebut dibangun sejak kecil melalui komunikasi, keteladanan, dan kesempatan bagi anak untuk berkembang secara emosional.
Alih-alih menganggap anak laki-laki akan "baik-baik saja" tanpa banyak arahan, para ahli menyarankan orang tua lebih aktif hadir dalam kehidupan mereka. Dengan pola asuh yang tepat, anak laki-laki berpeluang tumbuh menjadi pria yang percaya diri, bertanggung jawab, mampu membangun hubungan yang sehat, dan tetap dekat dengan orang tuanya hingga dewasa.
