6 Jenis Bom Bunuh Diri Dipakai Teroris, Ada 'Ibunya Setan'
- VoxPopnews/Ikhwan Yanuar
Dalam penggerebekan rumah pelaku bom bunuh diri yang berlokasi di Wisma Indah blok K22 RT 02 RW 03 Kelurahan Wonorejo Rungkut Surabaya, Tim Densus 88 Antiteror berhasil menemukan tiga bungkus plastik.
Di dalamnya terdapat dua pipa dan sudah ada isinya. Kapolrestabes Surabaya Komisaris Besar Rudi Setiawan mengatakan bom jenis ini dikenal dengan TATP atau Three Asseton Three Poropsaid.
"Jika diledakkan langsung tercerai-berai," ungkapnya di Surabaya, Minggu, 13 Mei 2018.
Bom ini tergolong jenis high explosive dan baru pertama kali terjadi di Indonesia pada 29 Oktober 2015 ketika pelaku teror bom bernama Leopard Wisnu Kumala melakukan aksinya di Mal Alam Sutera, Banten.
Mengutip situs Thefutureofthings, TATP telah digunakan para militan dan teroris dalam beberapa dekade terakhir. TATP adalah salah satu bom yang sulit dibuat dan mematikan. Kendati demikian, bahan-bahannya mudah dicari.
![]()
Bom ini memiliki kecepatan detonasi atau velocity of detonate (VoD) yang cukup tinggi sekitar 5.300 m/s. TATP ditemukan pada 1895 oleh seorang ilmuan Jerman, Richard Wolffenstein.
Kekuatannya dalam jumlah yang sama lebih besar daripada TNT. Bom jenis ini lebih mudah dibuat, dan susah untuk dideteksi Sinar X. Inilah mengapa TATP disebut sebagai Ibunya Setan alias ‘Mother of Satan.’
Bom Panci
Adalah bom yang menggunakan panci presto sebagai wadah alat ledaknya. Di dalam panci presto tersebut dimasukan beragam jenis bahan peledak dan partikel lain seperti paku, bongkahan besi, kaca, dan sebagainya.
Pada gagang panci bisa ditempelkan ponsel sebagai detonator pemicunya sehingga bom jenis ini bisa dikendalikan melalui jarak jauh.
Contoh kasusnya antara lain ledakan di kereta eksekutif di Mumbai, India, pada 11 Juli 2006 dan Boston Marathon, AS, pada 15 April 2013.
![]()
Bom Koper
Adalah bom rakitan yang diletakkan ke dalam koper. Di dalamnya dimasukan beragam jenis bahan peledak dan partikel lain seperti paku, bongkahan besi, kaca, dan sebagainya.
Contoh kasusnya yaitu ledakan di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton – keduanya di Jakarta – pada 17 Juni 2009.
Bom Buku
Bom yang dirakit dan diletakkan di wadah dalam bentuk paket buku. Teror bom buku pernah terjadi pada 2011 yang menimpa Gories Mere, saat itu pernah menjabat sebagai Kepala Pelaksana Harian BNN, dan tokoh Islam Ulil Abshar Abdalla.
