Gurihnya Bisnis Internet Satelit di Indonesia

Ilustrasi satelit.
Sumber :
  • MIT Technology Review

Hendra mengungkapkan jika kehadiran teknologi satelit orbit rendah atau (low earth orbit/LEO) dan satelit orbit menengah (medium earth orbit/MEO) bukanlah ancaman bagi industri satelit nasional yang masih menggunakan teknologi satelit geostasioner (geosynchronous satellite).

img_title Sultan Buka Peluang Damai dengan Pemilik Kabel Fiber yang Buatnya Celaka

Ia menilai justru kehadiran MEO dan LEO mampu untuk melengkapi teknologi yang belum dimiliki oleh satelit geostasioner. Aplikasi yang tidak membutuhkan latensi rendah masih bisa menggunakan satelit geostasioner.

Dengan kehadiran LEO dan MEO pula Hendra memperkirakan kapasitas satelit dunia untuk beberapa tahun mendatang akan mengalami kelebihan suplai. Kondisi ini akan mempengaruhi industri satelit di Indonesia.

img_title Jaksa Ungkap Chat Terdakwa Korupsi BTS Singgung Setoran Rp 40 Miliar ke Oknum BPK

Sebab, periode 2021 hingga 2023, akan banyak satelit dengan teknologi HTS yang akan mengkover wilayah Indonesia.

Berdasarkan informasi dari public domain, satelit dari operator nasional dan global yang direncanakan beroperasi tahun ini antara lain OneWeb, Nusantara Dua, O3b mPower, Starlink, Telesat LEO, Viasat-3, dan Jupiter-3.

img_title Mahasiswa yang Terjerat Kabel Fiber Optik Mulai Bisa Bicara dan Berat Badan Naik

“Karena banyak operator satelit yang akan mengkover wilayah Indonesia, maka suplai melimpah dan harga akan turun. Jadi operator satelit Indonesia harus berkolaborasi dengan asing. Itu dimungkinkan dalam regulasi selama operator asing tersebut memiliki lisensi,” jelas Hendra.

Ketua Umum APJATEL Jerry Mangasas Swandy.

Perang Timur Tengah bikin Biaya Fiber Optik Melonjak

APJATEL menyampaikan bahwa pelaku industri tetap berkomitmen menggelar jaringan fiber optik meski biayanya bisa naik akibat perang belum usai di Timur Tengah.

img_title
VoxPop.co.id
10 April 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut