Biografi Sariamin Ismail yang Tampil di Google Doodle
- Google Doodle Sariamin Ismail
Dari kehidupan asrama yang dijalaninya sewaktu di MNS, ia menulis catatan dalam bentuk sajak di buku kecil yang dinamakan "sahabatku". Di sekolah, Sariamain sering mendapat hadiah dari perlombaan menulis karangan prosa dan puisi yang diikutinya. Bahkan ia tidak lagi diberi hadiah dari perlombaan meskipun mendapatkan juara lantaran sering memenangkan perlombaan tersebut.
Setelah lulus dari MNS, Sariamin mendapat tugas mengajar di Meisjes Vervolg School (MVS) Bengkulu dan bahkan diangkat sebagai kepala sekolah pada 17 Juni 1925. Sejak saat itulah, ia berpindah-pindah domisili mengikuti tugas mengajar.
Selain mengajar, Sariamin juga menjadi aktivis pergerakan dengan mengikuti kegiatan organisasi. Ia ditunjuk sebagau ketua perkumpulan pemuda Islam Jong Islamieten Bond bagian wanita untuk wilayah Bukittinggi pada 1928-1930.
Setelah pindah ke Padangpanjang, Sariamin mengetuai cabang SKIS dan menulis untuk majalah Soeara Kaoem Iboe Soematra, majalah yang dikelola oleh perempuan. Selain itu, ia membagi waktunya untuk mengajar di sekolah swasta Diniyah School dan menjadi pengasuh tetap "Mimbar Putri" di Harian Persamaan.
Menjelang akhir tahun 1930-an, Sariamin menjadi wartawan dan penulis yang cukup vokal di majalah perempuan Soeara Kaoem Iboe Soematra. Ia melaknat poligami dan menekankan pentingnya hubungan keluarga inti di Minangkabau lewat Soeara Kaoem Iboe Soematra.
Dalam Harian Persamaan, Sariamin mengkritik ketidakadilan peraturan gaji bagi pegawai wanita, terutama guru wanita. Ia terus menulis untuk menambah penghasilan sehari-hari dan membiayai kegiatan organisasinya dengan menggunakan beberapa nama samaran untuk mencegah kemungkinan ia ditangkap akibat tulisan-tulisannya.
Dari sejumlah nama samaran yang Sariamin pernah digunakan, ia lebih dikenal dengan nama Selasih yang ia gunakan dalam novel pertamanya. Sejumlah nama samaran lain yang pernah ia gunakan yaitu Seleguri, Sri Gunung, Sri Tanjung, Ibu Sejati, Bundo Kanduang, dan Mande Rubiah.
Pada pertengahan tahun 1930-an, Sariamin telah menulis untuk majalah sastra Poedjangga Baroe.
Ia menerbitkan novel pertamanya, Kalau Tak Untung pada tahun 1933, yang menjadikannya sebagai novelis perempuan pertama dalam sejarah Indonesia.
Inspirasi penulisan novelnya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka milik pemerintah, merupakan beberapa kejadian nyata dalam hidupnya yaitu tunangannya yang menikahi wanita lain, dan kisah dua sahabat kecilnya yang saling jatuh cinta namun tak bisa bersatu.
