Kriptografi Dipakai untuk Belajar Online, Hasilnya Mengejutkan
- AJC.com
Hal ini diperkuat oleh data survei dari Ponemon Institute 2020: Cyber Security Awareness Measurement Service, di mana lebih dari 50 persen responden dari C-level mengakui bahwa organisasinya sangat rentan. Data ini mau menunjukkan bahwa human is the weakest link atau manusia menjadi titik terlemah dalam upaya pengamanan siber.
Pada kesempatan yang sama, Dosen Senior Sotftware Systems & Cybersecurity dari Monash University, Amin Sakzad, mengaku sudah menerapkan transformasi digital di dunia pendidikan melalui kriptografi.
Sistem ini dijabarkan untuk metode pembelajaran melalui interaksi online seperti Zoom, Webex, Teams, Classroom Learning Platforms (EdSTEM, Moodle). Kemudian, untuk pendekatan pengajaran melalui Gamification dan AR/VR. Terakhir, untuk proses penilaian melalui online Assessment platforms, eAsseessment, Al-driven invigilation.
“Tantangannya adalah kami harus bisa menyampaikan materi kuliah secara menarik, praktis, dan mudah dipahami. Dengan kriptografi, maka salah satunya metode pembelajarannya melalui pendekatan novel gamification,” jelas Amin.
Meski begitu, ia mengakui di balik implementasi transformasi digital, juga harus mampu menangkal serangan Ransomware, IDS, PenTest, dan Malware. "Kunci suksesnya terletak pada bagaimana kami bisa memaksimalkan data security, organizational security, software security, componet security, dan connection security," papar dia.
