Kecerdasan Buatan Kini Dipakai untuk Serangan Siber Online, Bagaimana Mencegahnya?
- VoxPop
VoxPop Tekno – Di era digital yang terus berkembang, teknologi telah menjadi inti dari hampir setiap aspek kehidupan kita. Namun, bersamaan dengan manfaatnya, kemajuan teknologi juga membawa ancaman yang tak dapat diabaikan: ancaman keamanan siber.
Di Indonesia, seperti halnya di seluruh dunia, ancaman terhadap keamanan siber semakin meruncing dan beragam. Dari serangan siber yang bertujuan mencuri data sensitif hingga kampanye siber yang bertujuan mengacaukan layanan publik, kompleksitas ancaman semakin meningkat.
Apa lagi, kini kemunculan Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan yang semakin hari semakin "maju". AI tentu membuat banyak kemudahan teknologi, namun di tangan yang salah, AI juga bisa digunakan untuk hal-hal negatif, salah satunya adalah pencurian data, baik di individu, pemerintah, perusahaan, dan bahkan institusi pendidikan.
Kaspersky Team
- VoxPop
Noushin Shabab, Peneliti Keamanan Senior untuk Tim Peneliti dan Analisis Global Asia Pasifik (Global Research and Analysis Team/ GReAT) untuk Kaspersky, mengungkapkan bagaimana AI dapat membantu bahkan untuk Advanced Persistent Threat (APT), yaitu jenis serangan online yang bertarget dan semakin canggih.
“Di luar pengembangan malware, AI dapat digunakan dalam berbagai tahap serangan siber yang canggih. Saat ini, aktor APT menggabungkan teknik canggih untuk menghindari deteksi dan metode diam-diam untuk mengukuhkan pertahanan mereka. Perkembangan AI baru dapat membantu penjahat siber dari tahap pengintaian hingga eksfiltrasi data,” ujar Shabab dalam acara Kaspersky Security Weekend yang berlangsung di Bali, 24 Agustus 2023.
Seperti namanya "advanced/berkelanjutan", APT menggunakan teknik peretasan yang terus menerus, canggih dan bersifat rahasia, untuk mendapatkan akses menuju sistem dan tetap berada di dalamnya untuk jangka waktu yang lama, dengan potensi kerusakan.
Salah satu karakteristik utama serangan APT adalah mendapatkan akses berkelanjutan ke sistem. Peretas mencapai hal ini dalam serangkaian tahap serangan termasuk pengintaian (mengumpulkan informasi tentang target, sistemnya, dan potensi kerentanan), pengembangan sumber daya, eksekusi, dan penyelundupan data.
Shabab juga menjelaskan bagaimana AI dapat membantu menyaring data yang dicuri dengan cara lebih tersembunyi dan efisien. “AI dapat menganalisis pola lalu lintas jaringan untuk berbaur lebih baik dengan perilaku jaringan biasa dan menentukan saluran komunikasi paling cocok untuk mengekstraksi data untuk setiap korban. Ia bahkan dapat mengoptimalkan kekeliruan, kompresi, dan enkripsi data yang dicuri untuk menghindari deteksi lalu lintas yang tidak normal,” tambahnya.
