Harga Pil Narkoba Ini Lebih Murah dari Sembako, Cuma Rp8 Ribu
- Al Jazeera
Vientiane – Peredaran narkotika di Vientiane, ibu kota Laos lagi tinggi-tingginya. Salah satu penyebab adalah negara tetangga, Myanmar, di mana kudeta pada 2021 telah menciptakan konflik kekerasan serta kekosongan hukum dan ketertiban yang memungkinkan berkembangnya sindikat narkoba.
Di Laos, polisi yang memiliki sumber daya terbatas kini tengah menghadapi banyaknya narkotika karena negara tersebut telah menjadi koridor penyelundupan penting dalam perdagangan narkoba di Asia.
Lonjakan harga ini telah mendorong harga narkotika turun menjadi sangat rendah (dan bahkan terendah dalam sejarah), dengan para pekerja garis depan mengatakan bahwa pil narkoba sekarang dijual seharga $0,24 sen (atau Rp 8 ribu) per buah, menurut laporan Al Jazeera, Selasa, 7 November 2023.
Ilustrasi narkoba.
- Pixabay/the3cats
Hal ini berarti narkotika dijual lebih murah dibandingkan sebagian besar kebutuhan dasar seperti makanan dan air dan menjadikan obat tersebut terjangkau bagi semua orang di salah satu negara termiskin di Asia tersebut.
Bounme, asisten direktur di Transformation Center Laos, salah satu dari dua pusat rehabilitasi yang dikelola swasta di negara tersebut, mengatakan bahwa “segala sesuatunya menjadi lebih mahal” di Laos selama Covid-19, sementatra “obat-obatan menjadi lebih murah, jauh lebih murah.”
“Pengguna narkoba mengatakan kepada saya bahwa harga satu potong yaba adalah 5.000 hingga 7.000 kip ($0,24 hingga $0,34 atau Rp 8 ribu hingga Rp10 ribu) sekarang,” kata Bounme, yang mewawancarai pasien baru yang memasuki klinik.
“Jika Anda membeli sebungkus berisi 200 pil, Anda bisa mendapatkannya dengan harga semurah 2.500 ($0,12 atau Rp 3 ribu) per pil,” bebernya.
Segitiga Emas, daerah terpencil di mana perbatasan Thailand, Myanmar dan Laos bertemu, telah lama menjadi salah satu pusat produksi narkoba terbesar di dunia. Secara historis, negara ini terkenal karena opiumnya, namun dalam beberapa tahun terakhir sindikat narkoba beralih memproduksi pil metamfetamin dan sabu, jenis narkoba yang disuling, lebih kuat dan mahal.
Kelompok-kelompok di Myanmar merupakan jantung dari perdagangan ini, yang paling menonjol adalah negara bagian Shan, sebuah wilayah yang dilanda perang di bagian timur negara tersebut dan memiliki perbatasan yang panjang dan rawan dengan Laos. Selama beberapa dekade, perdagangan narkoba telah memberikan dana penting bagi kelompok etnis bersenjata dan milisi yang berpihak pada militer di negara yang bermasalah tersebut, dengan narkotika mengalir melintasi perbatasan ke Tiongkok, Laos, dan Thailand dan ke pasar internasional.
