Sisi Negatif AI
- Dok. Kaspersky
Jakarta, VoxPop – Perkembangan pesat sistem kecerdasan buatan (AI) di ranah publik telah mengakibatkan penggunaan yang meluas oleh individu dan bisnis.
Sistem ini sangat mudah beradaptasi dengan berbagai tugas, termasuk pembuatan konten dan pembuatan kode melalui perintah bahasa alami.
Namun, aksesibilitas ini telah membuka peluang bagi pelaku ancaman siber dalam menggunakan AI untuk serangan canggih.
Pelaku ancaman siber dapat memanfaatkan AI untuk mengotomatiskan serangan, mempercepat rutinitas, dan menjalankan operasi yang lebih kompleks untuk mencapai tujuan mereka.
AI sebagai alat yang ampuh
Kaspersky telah mengamati beberapa cara penjahat siber menggunakan AI:
1. ChatGPT dapat digunakan untuk menulis perangkat lunak berbahaya dan mengotomatiskan serangan terhadap banyak pengguna.
2. Program AI dapat mencatat masukan ponsel pintar pengguna (log users' smartphone) dengan menganalisis data sensor akselerasi, yang berpotensi menangkap pesan, kata sandi, dan kode perbankan.
3. Kecerdasan kelompok (Swarm intelligence) dapat mengoperasikan botnet otonom yang berkomunikasi satu sama lain untuk memulihkan jaringan berbahaya setelah kerusakan.
Kaspersky juga baru-baru ini melakukan penelitian komprehensif lainnya tentang penggunaan AI untuk memecahkan kata sandi.
Sebagian besar kata sandi disimpan dalam bentuk terenkripsi dengan fungsi hash kriptografi seperti MD5 dan SHA.
Meskipun mudah untuk mengubah kata sandi teks menjadi baris terenkripsi, membalikkan proses tersebut merupakan tantangan.
Sayangnya, kebocoran basis data kata sandi terjadi secara berkala, yang memengaruhi perusahaan kecil dan pemimpin teknologi.
Pada Juli 2024, kompilasi kata sandi yang bocor terbesar hingga saat ini telah dipublikasikan secara daring, yang berisi sekitar 10 miliar baris dengan 8,2 miliar kata sandi unik.
"Kami menganalisis kebocoran data besar-besaran ini dan menemukan bahwa 32 persen kata sandi pengguna tidak cukup kuat dan dapat dikembalikan dari bentuk hash terenkripsi menggunakan algoritma brute-force sederhana dan GPU 4090 modern dalam waktu kurang dari 60 menit," kata Alexey Antonov, Kepala Ilmuwan Data Kaspersky.
Ia mengaku melatih model bahasa pada basis data kata sandi dan mencoba memeriksa kata sandi dengan metode AI yang diperoleh.
Karena itu, Kaspersky menemukan bahwa 78 persen kata sandi dapat dipecahkan dengan cara ini, yang sekitar tiga kali lebih cepat daripada menggunakan algoritma brute-force.
