Jejak Nenek Moyang di Raja Ampat Papua Barat

Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat.
Sumber :
  • www.albertkokuw.nl

Raja Ampat, VoxPop – Di masa lampau, pelaut yang sangat terampil melakukan pelayaran berani dari Asia ke Kepulauan Pasifik. Migrasi yang penting secara global ini membentuk distribusi spesies manusia — Homo sapiens — yang tersebar di Bumi.

img_title KPK Diminta Telusuri Dugaan Penyalahgunaan Wewenang Pengelolaan PDRD Raja Ampat Tahun 2025

Para pelaut ini menjadi nenek moyang orang-orang yang tinggal di wilayah saat ini, dari Papua Barat hingga Aotearoa, Selandia Baru. Namun, bagi para arkeolog, waktu, lokasi dan sifat pasti, dari penyebaran maritim ini masih belum jelas.

Untuk pertama kalinya, sebuah penelitian baru memberikan bukti langsung bahwa pelaut melakukan perjalanan sepanjang garis khatulistiwa untuk mencapai pulau-pulau di lepas pantai Papua Barat pada 55 ribu tahun silam.

img_title Raja Ampat Liveaboards, Intip Pengalaman Berlayar Eksklusif Bersama Agen Terpercaya Phinisi Trip Indonesia

Pekerjaan lapangan arkeologi di Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat ini, seperti dikutip dari situs Livescience, Rabu, 28 Agustus 2024, melibatkan akademisi dari Selandia Baru, Papua Barat Indonesia, dan masyarakat sekitar.

Memetakan arkeologi Papua Barat sangat penting karena membantu peneliti memahami dari mana nenek moyang masyarakat Pasifik berasal dan bagaimana mereka beradaptasi untuk hidup di lautan kepulauan yang baru dan asing ini.

img_title Dampingi Gibran ke Papua Barat, Ribka Haluk Sebut Hilirisasi Kakao Jadi Bukti Nyata Dana Otsus Berdampak

Para peneliti fokus pada penggalian di Gua Mololo - gua batu kapur raksasa yang dikelilingi hutan hujan tropis. Gua ini membentang hingga kedalaman 100 meter dan menjadi rumah bagi koloni kelelawar, biawak, dan ular.

Dalam bahasa setempat Ambel, Mololo berarti tempat bertemunya arus, nama yang tepat mengingat perairannya yang berombak dan pusaran air besar di selat di dekatnya.

Penggalian mengungkap beberapa lapisan hunian manusia yang terkait dengan artefak batu, tulang hewan, kerang, dan arang — semua sisa fisik yang dibuang oleh manusia purba yang tinggal di gua tersebut.

Temuan arkeologi ini jarang ditemukan di lapisan terdalam, tetapi penanggalan radiokarbon di Universitas Oxford Inggris dan Universitas Waikato Selandia Baru menunjukkan manusia telah hidup di Mololo setidaknya 55 ribu tahun sebelum masa sekarang.

Temuan utama dari penggalian tersebut adalah artefak resin pohon yang dibuat pada saat itu. Ini adalah contoh paling awal penggunaan resin oleh orang-orang di luar Afrika. Hal ini menunjukkan keterampilan rumit yang dikembangkan manusia untuk hidup di hutan hujan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut