Wamenkomdigi Bongkar Bias AI Asing: Dipakai di Indonesia tapi Sering Enggak Nyambung

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).
Sumber :
  • freepik.com/freepik

Jakarta, VoxPop – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyoroti bias budaya di platform-platform kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dikembangkan oleh para ahli di luar negeri.

img_title Xpeng Pamer Teknologi AI Lewat X9 dan G6 Pro AWD

Ia memberikan gambaran, platform kecerdasan buatan model bahasa besar (Large Language Model/LLM) yang banyak digunakan oleh warga Indonesia dilatih menggunakan data dari negara pembuatnya, sehingga kadang tidak menghasilkan keluaran yang sesuai dengan konteks Indonesia.

"AI memiliki preferensi, cultural values (nilai budaya), yang dibawa dari lingkungannya, sehingga LLM yang dibentuk adalah refleksi dari pengetahuan yang relevan dengan budayanya, ketika mereka dipakai di tempat lain, ya enggak nyambung, banyak biasnya," katanya di Jakarta, Senin, 15 Desember 2025.

img_title 10 Keunggulan Aplikasi AI dalam Dunia Kerja, Dari Menyusun Strategi hingga Membantu Pengambilan Keputusan Lebih Cepat

Wamenkomdigi menyampaikan pentingnya pada ahli di Indonesia mengembangkan platform kecerdasan buatan berdasarkan nilai-nilai dan budaya bangsa untuk mewujudkan kedaulatan dalam bidang teknologi.

"Untuk mencapai sovereign (kedaulatan) AI dibutuhkan landasan nilai, norma dasar, contohnya kita punya Pancasila, saya kira ini menarik sekali untuk dikembangkan lebih lanjut," kata Nezar Patria.

img_title 3 Aplikasi AI Terbaru Hadir dengan Kemampuan Multimodal, Saat Teks, Gambar, Audio, dan Video Menyatu dalam Satu Platform

Ia berharap para akademisi dan peneliti di dalam negeri mengembangkan riset-riset tentang AI yang dapat mendatangkan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung tata kelola AI dan transformasi digital yang berkeadilan.

Wamenkomdigi menyampaikan bahwa para pelaku industri AI saat ini berlomba-lomba untuk membuat platform AI paling canggih dan bisa melakukan apa saja yang diperintahkan.

Ia mengatakan, LLM telah melahirkan banyak platform yang dapat dimanfaatkan untuk menjawab pertanyaan, membuat karya audio-visual, sampai menyelesaikan berbagai macam permasalahan. Di samping itu, ia melanjutkan, platform model bahasa kecil (Small Language Model/SLM) juga perlu dikembangkan.

"SLM berbeda dengan LLM, karena SLM dilatih dengan data-data spesifik dan lebih akurat dalam menjawab pertanyaan di bidang tersebut. Contohnya, platform AI SLM bisa dilatih khusus dengan data-data kebijakan publik untuk memudahkan pengguna mendapatkan jawaban tentang persoalan tersebut tanpa harus memikirkan cara penulisan prompt yang tepat agar mendapatkan data yang sesuai," tegas Wamenkomdigi Nezar Patria.

Tampilan Aplikasi OLX

AI Mulai Masuk Pasar Mobil Bekas, Apa Untungnya Buat Konsumen?

Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence alias AI) mulai mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat mencari mobil bekas.

img_title
VoxPop.co.id
1 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut