Smart City Bukan Soal Banyak Aplikasi Tapi Solusi
- VoxPop/Sarie
Sedangkan Ketua Tim Peneliti Smart City Institut Teknologi Bandung (ITB), Suhono Harso Supangkat mengusulkan perlunya melihat isu-isu strategis di era digital. Seperti halnya smart city yang perlu ada standarisasi, interperobility, dan security. Oleh karena itu pemerintah harus membuat rambu-rambu yang jelas untuk smart city agar kedaulatan informasi tetap dijaga di Indonesia.
“Smart city bukan kota dengan banyak-banyakan aplikasi tapi banyak solusi. Aplikasi as a part of solusi. Banyak aplikasi asing masuk ke daerah tawarkan smart city. Kalau tak dijaga, kebayang enggak data penduduk Indonesia dimonetisasi oleh orang asing tanpa kita sadari,” katanya.
Managing Director Grab Indonesia, Ridzki Kramadhibrata, mengatakan jika inovasi di era ini datang dari masalah yang tak bisa diselesaikan pemain lama.
“Contohnya Grab, ini kan solusi untuk isu transportasi. Masalahnya regulasi tak siap untuk ini. Jadi, terkesan disruptive bagi pemain lama. Padahal ini solusi,” kata dia.
Chief Executive Officer (CEO) YesBoss, Irzan Raditya, menimpali jika pada prinsipnya pengembang aplikasi siap berkolaborasi dengan semua pemain untuk membangun Indonesia.
“Kita ini datang bukan untuk merusak tatanan. Tetapi mempercepat pembangunan. Kami banyak bekerja sama dengan pemain existing untuk membangun industri contact center,” katanya.
Sementara dan Founder Nebengs.com, Rudyanto Linggar mengingatkan semua pemain kembali kepada filosofi Pancasila yakni gotong royong walau di era digital ada kecenderungan yang kuat bertahan, sementara yang lemah hilang dari peredaran.
“Kita ini punya filosofi bagus, gotong royong. Mari bersama membangun bangsa. Kalau tidak, Revolusi Digital ini tak ada artinya,” katanya.
