Roblox dan Gorebox Disebut Rentan Dimanfaatkan untuk Radikalisasi
- VCGames
Jakarta, VoxPop – Perkembangan industri game online yang pesat membawa dampak positif bagi kreativitas dan interaksi sosial generasi muda. Namun di balik itu, muncul kekhawatiran baru.
Platform permainan daring seperti Roblox dan game Gorebox disebut berpotensi menjadi pintu masuk radikalisasi diri (self-radicalisation) pada remaja, sebagaimana terungkap dalam laporan terbaru otoritas keamanan Singapura.
Roblox.
- Istimewa
Internal Security Department (ISD) Singapura mengungkap kasus seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun yang dikenakan restriction order berdasarkan Internal Security Act (ISA) setelah terbukti terpapar ideologi ekstrem dan menunjukkan dukungan kuat terhadap kelompok teroris ISIS.
Radikalisasi Berawal dari Dunia Digital
Menurut ISD, proses radikalisasi remaja tersebut tidak terjadi secara instan. Ia mulai mengonsumsi konten kekerasan dan propaganda ekstrem di internet sejak usia 12 tahun.
Seiring waktu, paparan tersebut berkembang menjadi keyakinan ideologis yang semakin menguat.
Yang mengkhawatirkan, platform game online turut dimanfaatkan sebagai media ekspresi dan simulasi ideologi ekstrem.
Remaja tersebut menggunakan Roblox dan Gorebox untuk membuat konten visual berupa simulasi serangan teroris, adegan eksekusi, hingga kekerasan terhadap pihak yang ia anggap sebagai musuh ISIS.
Konten berbasis game itu kemudian dibagikan ke media sosial sebagai bentuk propaganda dan glorifikasi kekerasan.
Roblox dan Gorebox dalam Sorotan
Roblox dikenal sebagai platform game global yang memungkinkan pengguna menciptakan dan memainkan jutaan gim buatan komunitas.
Fitur kebebasan berkreasi, roleplay, dan komunikasi antarpemain menjadi daya tarik utamanya, terutama bagi anak-anak dan remaja.
Sementara itu, Gorebox merupakan gim yang menampilkan kekerasan eksplisit dan simulasi destruktif.
Meski ditujukan untuk hiburan, konten brutal dalam game ini dinilai berisiko jika dikonsumsi tanpa pengawasan, terutama oleh pemain di bawah umur.
ISD menegaskan bahwa game bukan penyebab langsung radikalisasi, namun dapat menjadi media pendukung ketika digabungkan dengan paparan propaganda ekstrem di platform digital lainnya.
Ketika Batas Fiksi dan Realitas Menjadi Kabur
Para pakar keamanan dan psikologi menyebutkan bahwa game dengan unsur roleplay dan simulasi dapat membuat sebagian remaja kesulitan membedakan antara dunia nyata dan dunia virtual.
