Si Mungil Keranjingan Games
Selasa, 9 Agustus 2016 - 10:24 WIB
Sumber :
- Pixabay/Monikabaechler
Selain itu, anak menjadi temperamen atau marah ketika diminta untuk berhenti atau tidak main game. "Efek psikologisnya adalah emosi jadi sulit terkontrol, jadi temperamen karena keinginan untuk kembali ke game tersebut jadi lebih besar," ujar Ajeng.
Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementerian Pendidikan, Sukiman menambahkan, dampak yang ditimbulkan dari game sebenarnya tergantung jenis game atau tingkat kecanduan. Misal, jika anak main game yang mengandung unsur kekerasan, akan menimbulkan imajinasi tertentu yang kurang baik pada anak, sehingga bisa mempengaruhi kejiwaan hingga mengganggu mentalnya.
Sementara imbas negatif terhadap fisik adalah potensi obesitas, jika anak main game sambil ngemil dan kurang gerak. Namun, ada juga anak yang karena keasyikan main game jadi lupa makan, minum, istirahat, sehingga membuat kesehatan menjadi terganggu. "Dampak lain, sekolahnya, belajarnya juga menjadi terganggu," kata dia.
Kontrol Ketat
Jika anak sudah kecanduan akan sulit disembuhkan, bahkan perlu bantuan psikolog. Namun sebelum itu terjadi, ada baiknya, orangtua mengubah pola pendisiplinan anak.
Pengondisian dalam satu keluarga, menurut Ajeng sangat dibutuhkan. Misalnya, semua keluarga sepakat untuk tidak main game, sehingga anak berhenti. Jika sebelumnya boleh main tanpa batasan, maka harus ada batasan waktu.
Dan meski main game sebenarnya tidak memerlukan batasan usia, namun pengecualian untuk anak yang masih sangat kecil. Misal untuk usia dua tahun, dia berpendapat, tidak disarankan sudah main game, karena bisa membuat anak kecanduan.
Sementara porsi waktu main game bagi anak usia dua hingga lima tahun, saran Ajeng, maksimal satu jam. Sedangkan usia di atas lima tahun, maksimal dua jam.
Karena itu, dia menuturkan, perlu pendampingan orangtua untuk mengetahui jenis game yang dimainkan agar sesuai dengan tahapan usia dan kesukaan anak. Dan layak atau tidak game tersebut dimainkan, dengan memperhatikan unsur-unsur dalam game tersebut.
"Misalnya ada tokoh perempuan yang bajunya kurang pantas, atau nabrak-nabraknya terlalu berlebihan, atau ada kekerasan, itu yang harus diperhatikan oleh orangtua. Jadi pendampingan pemilihan game juga sangat menentukan," tuturnya.
Halaman Selanjutnya
