Urun Rembuk untuk Masa Depan Industri Kuliner Indonesia
Seperti cerita Adhia, pengusaha muda yang punya sejumlah usaha seperti Umara Catering, Kedai Makan Lumpang Emas serta laukita yang menawarkan lauk siap saji dalam kemasan. Laukita yang mengusung konsep ready meal terbilang unik, karena Adhia mengklaim semua bahan yang ia gunakan segar, tanpa bahan pengawet. Agar lauk yang dibuatnya tetap segar dan siap disajikan dalam waktu 3 menit, ia mencari teknologi kemasan yang sesuai untuk 'mengawetkan' makanan. Susah payah berhasil menemukan teknologi yang sesuai, kini ia kesulitan menerbitkan izin usaha. Sudah 2 bulan ia berusaha menerbitkan SIUP TDP, semakin lama, modal yang harus dikeluarkannya jadi membengkak sementara usaha belum bisa berjalan. Isu sumber daya manusia yang tidak loyal dan higienitas juga menjadi tantangan.
![]()
Apa yang dialami oleh Adhia, tentu dialami juga oleh banyak pengusaha kuliner lain. Sejumlah permasalahan seperti seperti alur distribusi, bahan baku, logistik, teknologi, pemasaran, izin usaha, sumber daya manusia hingga sertifikasi standar perlu segera diatasi demi memajukan industri kuliner.
Teguh Anantawikrama, selaku Ketua Working Group Kreasi Fungsional KEIN mengingatkan kembali, "Potensi Industri kuliner sangat besar, karena bisa memberikan multiplier effect yang besar. Akan tetapi dibutuhkan dukungan multi stakeholder. Mulai dari kalangan finansial sebagai pendukung permodalan, pembuat kebijakan mulai dari kebijakan pengembangan industri dan pengembangan pasar melalui Departemen Perdagangan hingga BPOM yang mengawasi standar keamanan pangan. Tidak ketinggalan keterlibatan Kadin."
Teguh melanjutkan, "Melihat banyak kebijakan multi sektor, maka saya merasa perlu mendorong pertemuan lintas kementerian dan mengusulkan adanya shared KPI antar departemen agar keinginan meningkatkan daya saing industri kuliner bisa tercapai," tutupnya.
