Tak Percaya Tuhan Hingga Nakal, Gadis Tunanetra Putuskan Mualaf
- Tangkapan layar Youtube Hidayatullah TV.
Dari situ, Galuh kembali berdiskusi dengan guru sekolahnya. Ketika dia mulai mendapat pencerahan, Galuh semakin penasaran dan lebih banyak berdiskusi dengan gurunya. Ketika itu, Galuh masih duduk di bangku SMP.
"Sampai Azan pun saya tanyakan, kenapa Azan pakai bahasa Arab. Dia cuma jawab biar nanti artinya gak berubah. Gak berubah seperti apa, saya bilang gitu. Saya belum puas ya udah saya cari aja. Di buku, di mana pun, saya scan satu-satu. Di situ akhirnya saya menemukan jawaban," ungkapnya.
"Itu gak langsung jawaban yang 100 persen, tapi disuruh mikir. Alhamdulillah dapet dan jawabannya karena bahasa Arab dan bahasa Alquran itu beda. Tapi susah, untuk mencapai itu yang kaya Ya Allah, Masya Allah. Saya juga mikir kenapa dulu saya sefrontral dan segila itu," sambung dia.
Membaca Alquran
- vstory
Galuh akhirnya yakin untuk memeluk Islam. Namun sang guru menasihati, jangan menjadi Muslim jika alasannya hanya karena sudah puas dengan jawaban yang dicari. Pada saat itu, Galuh tidak langsung mengucap dua kalimat Syahadat. Sebelum resmi mualaf, Galuh sudah salat dan menjalankan ibadah layaknya umat Muslim lainnya.
"Saya masuk Muslim, saya Syahadat. Itu pun saya masih mikir, nanti kalau aku gak tenang lagi gimana. Setelah itu saya dateng ke ustaz. Akhirnya saya di situ dan ketika saya baca Syahadat saya nangis, saya gak bisa ngebendung itu, saya bahagia. Setelah itu saya bilang, Insya Allah saya seterusnya akan memeluk Islam," pungkas Galuh.
