Bisa Terlalu Pede, Ini 5 Ciri Orang Dengan Kepribadian Narsistik
- Pixabay
Selain itu, mereka biasanya mengandalkan orang lain sebagai sumber harga diri dan tidak memiliki rasa diri yang pasti. Seseorang ini mungkin menunjukkan perilaku mencari perhatian untuk mendapatkan kekaguman yang mereka rasa perlu atau pantas mereka dapatkan.
3. Kecenderungan untuk Memonopoli Percakapan
Wanita egois terhadap pasangannya.
- U-Report
Orang dengan gangguan kepribadian narsistik menunjukkan sedikit minat yang tulus pada pengalaman orang lain. Dengan demikian, seseorang dengan gangguan ini dapat mendominasi percakapan atau kehilangan minat dalam percakapan yang tidak berputar di sekitar mereka. Mereka juga dapat menggunakan hubungan untuk keuntungan pribadi mereka sendiri.
4. Kurangnya Empati Terhadap Orang Lain
Wanita hadapi pria cuek.
- http://informasikankerservik.blogspot.com
Karena mereka dengan NPD sering kurang empati terhadap orang lain, mereka akan secara konsisten mengabaikan kebutuhan orang lain.
Mereka sering sangat peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang mereka, tetapi sebaliknya mungkin sulit untuk memahami atau tidak peduli dengan perasaan mereka. Individu dengan sikap narsistik juga dapat menjadi "antagonis" terhadap orang lain karena kurangnya empati ini.
5. Kesulitan Menerima Kritik
Ilustrasi kritikan.
- U-Report
Mereka yang memiliki kepribadian narsistik selalu berjuang untuk menolak atau menyangkal apa pun yang mereka anggap sebagai kritik karena ini dapat merusak harga diri dan rasa identitas mereka. Bahkan, mereka mungkin menyerang orang yang telah menyinggung mereka.
Orang dengan NPD sering juga memiliki kondisi kesehatan mental lainnya, seperti:
- Kecanduan
- Gangguan bipolar
- Gangguan kepribadian antisosial
- Gangguan kepribadian ambang
- Depresi
- Kecemasan
- Pikiran atau perilaku bunuh diri
Mengapa Bisa Mengidap Gangguan Ini?
Ilustrasi anak narsis
- U-Report
Hingga saat ini, belum diketahui pasti apa yang menyebabkan seseorang memiliki gangguan kepribadian narsistik. Namun, kondisi ini diduga muncul sebagai akibat dari kesalahan pola asuh, atau beberapa hal yang pernah terjadi sebelumnya, seperti kekerasan, ditinggalkan, dimanjakan, atau dipuji terlalu berlebihan.
Anak yang dibesarkan oleh orangtua yang terlalu menekankan keistimewaan anak dan terlalu mengkritisi rasa takut dan kegagalan memiliki risiko untuk mengalami gangguan ini. Faktor gen atau masalah fisik dan psikologis juga menjadi salah satu penyebab gangguan kepribadian ini.
