Pengolahan Limbah Memanfaatkan Lalat Tentara Hitam, Sampah Bersih Dalam Sehari

Pengolahan limbah organik dengan teknologi Bio-Conversion.
Sumber :
  • ist

Robert berharap, Bio-Conversion BSF di Rest Area Cibubur mampu mendulang sukses sebagaimana Bio-Conversion BSF dengan kapasitas empat ton per hari di Lombok yang telah dibangun melalui dukungan dana dari Yayasan Korindo pada 2017 lalu.

img_title Purbaya dan Ketum PBNU Bahas Investasi dan Dukungan Pemerintah di Proyek Pengolahan Sampah

Pengolahan limbah organik dengan teknologi Bio-Conversion.

Photo :
  • ist

Pada proyek ini FFLI menjalin kerja sama dengan Pemda Provinsi NTB memantau pengoperasiannya sampai saat ini. Maka tak heran jika proyek ini dijadikan salah satu prototype penanganan sampah di Lombok.

img_title Pertamina Optimalkan Potensi Sawit dan Limbah Substitusi Impor BBM Dukung Ketahanan Energi Nasional

“Fasilitas-fasilitas ini tentunya tidak bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya kolaborasi dari FFLI serta dukungan dari pemerintah setempat. Oleh karena itu, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kerja sama yang baik dari semua pihak yang terlibat,” ucap Robert. 

Lebih lanjut, Robert mengatakan, melalui Yayasan Korindo, perusahaan-perusahaan yang berada di bawah naungan Korindo Group sejatinya telah berkontribusi dalam mendukung upaya-upaya mengembalikan keseimbangan alam di Indonesia. 

img_title Indonesia Punya 'Harta Karun' yang Sering Terbuang, Nilai Tambahnya Disebut Capai 9 Kali Lipat

Sementara itu, Ketua Yayasan FFLI, DR Hadi Pasaribu, fasilitas Bio-Conversion ini juga berperan dalam memberi solusi melalui penciptaan lingkungan yang bersih dan sehat, menyelesaikan masalah sampah di hulu, menyediakan sumber protein, lemak dan chitin, mengembalikan kesuburan tanah, serta berperan dalam upaya mitigasi perubahan iklim. 

“Semakin banyak fasilitas Bio-Conversion yang dibangun, maka semakin besar manfaat yang dihasilkan untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup kita,” jelasnya.

Senada dengan Ketua Yayasan FFLI, tokoh penggiat BSF di Indonesia, Prof. Agus Pakpahan juga mendorong agar fasilitas-fasilitas seperti ini dapat dibangun di banyak tempat, sehingga sampah tidak perlu diangkut ke TPA. 

"Selain menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat cara ini banyak memberi manfaat untuk lingkungan hidup dan membentuk ekonomi sirkuler," ujarnya.

Dijelaskannya, metode Bio-Conversion Organic dengan menggunakan Lalat Tentara Hitam relatif aman bagi lingkungan. Dari sekitar 800 jenis yang ada di muka bumi, Lalat Tentara Hitam merupakan jenis yang paling berbeda, karena tidak bersifat patogen atau membawa agen penyakit.

Pada metode ini, larva Lalat Tentara Hitam akan mengurai sampah organik yang dihasilkan aktivitas manusia. Setelah optimal mengurai sampah organik, larva-larva tersebut bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, seperti ayam atau ikan karena kaya akan asam amino dan protein. Proses inilah yang pada akhirnya membentuk ekonomi sirkuler, di mana prospek ekonomi baru terjadi. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut