Lewat KUR BRI, Warung Bu Sum di Pasar Beringharjo Raup Omzet Belasan Juta

Lewat KUR BRI, Warung Bu Sum di Pasar Beringharjo Jogja Raup Omzet Belasan Juta
Sumber :
  • Dok. BRI

YogyakartaVoxPop – Dukungan nyata BRI terhadap pelaku UMKM terus membuahkan hasil yang inspiratif. Salah satu buktinya adalah kesuksesan Warung Bu Sum, tempat makan legendaris yang telah berdiri lebih dari enam dekade di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

img_title Danantara Housing Expo 2026 Tawarkan Promo Spesial KPR dengan DP Mulai 1 %

Melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI, warung ini kini kian berkembang dan meraup omzet hingga belasan juta rupiah per hari, terutama saat momen libur Lebaran.

Warung Bu Sum menjadi bukti nyata bahwa akses pendanaan yang tepat dapat membantu UMKM bertahan dan naik kelas. Udiyanti, generasi ketiga penerus usaha keluarga ini, mengungkapkan bahwa pendanaan dari BRI menjadi titik balik penting dalam perjalanan usaha mereka. 

img_title Rumah BUMN Pertamina Perluas Akses Pasar hingga Dorong Digitalisasi UMKM di Sulawesi Tengah

Berkat program KUR BRI, warung yang awalnya hanya berukuran kecil kini tampil lebih layak, nyaman, dan tetap mempertahankan cita rasa kuliner khas Jawa yang menjadi andalan sejak dulu.

Lewat KUR BRI, Warung Bu Sum di Pasar Beringharjo Jogja Raup Omzet Belasan Juta

Photo :
  • Dok. BRI
img_title IFW 2026, Pertamina Patra Niaga Perkuat Akses Pasar UMKM Binaan

Dukungan pembiayaan dari BRI tidak hanya membuat warung ini bertahan di tengah tantangan zaman, tetapi juga membantu ekspansi usaha dengan pembelian perlengkapan dan peningkatan fasilitas.

Warung Bu Sum ini terkenal akan kuliner ‘Sate Kere’ yang terbuat dari sandung lamur (daging sapi dengan lapisan lemak) yang dibakar dengan bumbu rempah dan kecap. Selain itu, ada juga menu lainnya yang tak kalah menggiurkan dan diminati oleh para pelanggan yang berkunjung, seperti gulai sapi hingga soto daging.

“Di sini memang makanannya khas Jawa semua. Kalau yang favorit ada sate kere yang terbuat dari daging sapi, tapi ada juga sate ayam, nasi gudeg, mangut lele, dan lainnya. Untuk jam operasionalnya sendiri mulai dari jam 6 pagi hingga 4 sore setiap harinya, karena kita masih ikut jam buka-tutup pasar,” ujar Udiyanti.

Menariknya, tempat makan yang satu ini masih mempertahankan cara memasak yang tradisional, yakni dengan menggunakan anglo kecuali untuk kuahnya. Jika makan langsung di warung, para konsumen akan bisa mencium sendiri aroma rempah yang gurih dan nikmat yang bisa menambah selera makan.

Udiyanti juga bercerita bahwa usaha turun-temurun yang ditekuninya tersebut kini menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah setiap harinya, tak terkecuali ketika momen Lebaran tiba. “Selama Lebaran, kami tutup 2 hari. Di hari ke-3 baru buka kembali. Dan mulai dari hari ke-3 ini sudah kembali ramai dan bisa bertahan sampai libur sekolah anak-anak selesai,” tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut